Page 30 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 30
Getar‐getar rasa yang muncul kepada Wiwid dapat aku
rasakan. Demikian juga sebaliknya. Walaupun itu tak pernah
kami ucapkan, tapi tatapan dan senyuman mewakili itu
semua. Seringnya bertemu dengan keluarga Wiwid juga
membuat kami semakin dekat.
Sementara keluarga Nurul, sudah menganggapku seperti
keluarga sendiri. Seringnya bertemu di kegiatan organisasi
keagamaan dan berdiskusi dengan orang tuanya membuat
kami semakin akrab. Ditambah adiknya yang sering main ke
tempatku membuat kami seperti keluarga saja. Suatu saat
ayahnya mengutarakan keinginanya untuk menjodohkan
Nurul denganku, namun aku tak pernah memberi kepastian.
Hadirnya Wiwid dan Nurul dalam kehidupan ini
membuatku bahagia dan juga sulit. Bagaimana tidak, rumah
keluarga mereka masih dalam satu RT yang sama. Kalau aku
memilih Wiwid bagaimana dengan Nurul. Demikian juga
sebaliknya. Ah, rasa hatiku semakin tak menentu.
Ketika mentari sudah meninggalkan cahayanya dan
rembulan menggantikanya. Kusempatkan diri berkomunikasi
dengan ayah tercinta via telepon.
“Semua keputusan ada padamu, Suf. Tanyakan pada
hatimu yang paling dalam.” Ayah memberikan masukan
dengan lembut.
“Nggih, Pak,” jawabku dengan persaan yang masih
bimbang.
Membuat keputusan yang terbaik memang harus aku
ambil, walaupun itu sangat menyakitkan dan membuat
terluka. Tapi, demi kebaikan bersama dan menjaga
keharmonisan. Aku putuskan untuk mencari jalan lain. Yaitu
18 | 80 Cerpenis MediaGuru

