Page 43 - bk metamorfosis
P. 43
keterampilan pemecahan masalah yang diikuti dengan penguatan keterampilan.
Ketika dihadapkan dengan suatu pertanyaan, siswa dapat melakukan keterampilan
memecahkan suatu masalah untuk memilih dan mengembangkan tanggapannya.
Tidak hanya dengan cara menghapal, keterampilan memecahkan masalah dapat
juga memperluas proses berpikir. Program pembelajaran creative problem solving
memberikan pengaruh yang relevan terhadap keterampilan berpikir kreatif dan
hasil belajar siswa (Cetinkaya, 2013)
Metode creative problem solving merupakan representasi dimensi-dimensi
proses yang alami, bukan suatu usaha yang dipaksakan. metode creative problem
solving merupakan pendekatan yang dinamis, siswa menjadi lebih terampil
sebab siswa mempunyai prosedur internal yang lebih tersusun dari awal. Ada
banyak kegiatan yang melibatkan kreatifitas dalam pemecahan masalah seperti
riset dokumen, pengamatan terhadap lingkungan sekitar, kegiatan yang berkaitan
dengan ilmu pengetahuan, dan penulisan yang kreatif. Dengan metode creative
problem solving, siswa dapat memilih dan mengembangkan ide dan pemikirannya.
Berbeda dengan hafalan yang sedikit menggunakan pemikiran, metode creative
problem solving memperluas proses berpikir.
Dalam metode pembelajaran creative problem solving terdapat tahap-
tahap yang secara operasional menggambarkan proses berpikir kreatif. Pada
tahap pertama dan kedua merupakan langkah dalam sintesis ide, tahap ketiga
dan keempat merupakan langkah dalam pembangkitan ide, sedang tahap kelima
dan keenam merupakan langkah penerapan ide dalam mengajukan masalah. Dua
metode tersebut dipilih untuk digunakan karena lebih operasional dan sesuai
dengan proses berpikir dalam mengajukan masalah (Tatag, 2004)
Menurut Daties (2010) ada beberapa alasan memilih metode creative problem
solving dalam pembelajaran yang selanjutnya dapat pertimbangkan dalam
kegiatan pembelajaran. Pertama, metode creative problem solving termasuk
kedalam metode pembelajaran dengan pendekatan konstruktivistik, dimana yang
menjadi pusat pembelajaran adalah siswa (student centered) sehingga metode
tersebut dianggap mampu mengaktifkan siswa.
Dengan demikian akan diperoleh hasil pembelajaran yang maksimum.
Kedua, metode pembelajaran creative problem solving dapat digunakan pada
siswa dengan kemampuan intelektual beragam, sehingga tidak perlu memisahkan
antara anak yang cerdas dan anak yang memiliki kemampuan intelektual
menengah ke bawah. Sehingga mereka tidak merasa “terpinggirkan”. Ketiga,
metode creative problem solving tidak hanya terbatas pada tingkat pengenalan,
pemahaman dan penerapan sebuah informasi, melainkan juga melatih siswa
untuk dapat menganalisis suatu masalah dan memecahkannya. Keempat, metode
pembelajaran creative problem solving mudah dipahami dan diterapkan dalam
setiap jenjang pendidikan dan tiap materi pembelajaran (Putri, 2013).
Gamze., dkk (2008) mengungkapkan bahwa pembelajaran dengan metode
METAMORFOSIS 35
Pengembangan Sekolah Model di Bali

