Page 29 - BUKU PERDEBATAN PASAL 33 DALAM SIDANG AMANDEMEN UUD 1945
P. 29
Susanto Polamolo
Elnino M. Husein Mohi
PERDEBATAN PASAL 33
DALAM SIDANG AMANDEMEN UUD 1945
Framing pertentangan pemikiran politik sepanjang 1945-
1965 yang disusun oleh Herbert Feith dan Lance Castles 21
membingkai dengan cukup jelas ihwal faksionalisasi politik yang
mewakili masing-masing kubu—yang kemudian berimbas ke
ekonomi.
Hingga Orde Lama tumbang, hubungan Gerakan Koperasi
dengan Pemerintah dan Perusahaan Negara belum sempat
diatur lebih lanjut sesuai amanat Pasal 7 Ayat (2) UU No. 14/1965.
Pasal 33, dengan demikian, di masa ini lebih menunjukkan
kecenderungan ke arah etatisme, mengingat hal itu
memungkinkan, sebab frasa “dikuasai” di dalam pasal tersebut
sangat terbuka ditafsirkan sebagai “memiliki”. Dan jika sudah
begitu, dapat dipastikan yang yang terjadi adalah etatisme.
Sehingga hampir tak ada bedanya, dari segi itu, apa yang
terjadi di masa Orde Lama dengan apa yang terjadi kemudian
di masa Orde Baru. Bahkan merupakan kelanjutan ekstrim dari
kesalahan yang terjadi di masa Orde Lama. Etatisme tadi telah
beralihrupa menjadi otoritarianisme hasil kawin-silang teknokrat 22
dengan militer. 23
elit Indonesia belum sepenuhnya siap bergerak di jalur revolusi-regulasi yang dicanangkan
oleh Orde Lama. Itulah mengapa program Depernas seperti Rancangan Pembangunan
Nasional Semesta Berencana tidak pernah bisa dipahami sebagai bentuk konkrit konsep
keberdikarian yang digaungkan Presiden Soekarno.
21 Herbert Feith dan Lance Castles (Ed), Pemikiran Politik Indonesia 1945-1965, Jakarta: LP3ES,
1988. Baca misalnya Bagian III: Demokrasi Terpimpin dan Para Pengkritiknya.
22 Sedikit sebetulnya ulasan mengenai teknokrat, cendekiawan, dan intelektualisme, dalam
hubungannya dengan politik-ekonomi. Namun dalam beberapa karya, seperti karya J.
Benda misalnya, atau Dhakidae dan Yudi Latif, dapat dilihat betapa pentingnya mereka yang
disebut sebagai teknokrat, cendekiawan, atau intelektual. Sebagai pengantar wacana, edisi
Prisma No. 3 Maret 1984, Tahun XIII, dapat membantu framing soal ini. dalam edisi tersebut,
tulisan-tulisan dari Ignas Kleden, Dawam Rahardjo, R.S. Milne, cukup signifikan memberikan
framing. Dalam kolom “Dialog”, teknokrat sebagai bentuk kekuatan baru juga diulas secara
menukik, B.M. Diah, Soetandyo Wignyosoebroto, dan Mubyarto, ikut membuka framing lebih
jauh dan konkrit.
23 Harold Grouch, seorang pemerhati militer di Indonesia, banyak menulis topik menarik soal ini.
Baca misalnya Harold Grouch, Pasca Angkatan 1945: Militer dan Politik di Indonesia, Prisma,
xxviii

