Page 32 - BUKU PERDEBATAN PASAL 33 DALAM SIDANG AMANDEMEN UUD 1945
P. 32

CATATAN PENDAHULUAN





                  Dari sana cukup memperjelas bagaimana kemudian nasib
            koperasi  sebagai  pokok  utama  dari  Pasal  33.  Sebuah  seminar
            dilangsungkan pada April 1979 oleh Dewan Koperasi Indonesia,
            tentang “Kerjasama  Antara Koperasi, Perusahaan Negara, dan
            Swasta”. Semua tokoh  yang hadir sependapat bahwa koperasi
            Indonesia tidak mampu berkembang bukan karena orang-orang
            koperasi tidak bisa berjuang, dan juga bukan karena Pemerintah
            tidak melindungi koperasi, tetapi semata-mata karena sistem
            ekonomi yang berlaku adalah sistem ekonomi liberal, bukannya
            sistem ekonomi Pancasila yang sebenar-benarnya. 27
                  Seperti telah disebutkan sebelumnya, Orde Baru memang
            merupakan sebuah rezim aliansi segitiga antara militer, teknokrat,
            dan pengusaha. Kritik yang disampaikan Bung Hatta di Seminar
            Penjabaran Pasal 33 tak berlebihan. Sudjatmoko bahkan lebih
            jauh  menguraikan  bagaimana  aliansi  segitiga  tersebut:  urusan
            politik diserahkan kepada militer, sementara urusan ekonomi
            dipercayakan kepada teknokrat FE-UI.
                  Sejumlah organisasi teknokrat sebagai aliansi kekuatan
            di kalangan para sarjana saat itu memang marak dibentuk. Yang
            paling mencolok bergandengan tangan dengan Pemerintah
            adalah ISEI (Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia).  Ada semacam
            ironi persis di situ. Dhakidae menulis:

                        …[g]abungan dengan kekuatan birokrat
                  dominan jauh-jauh lebih mencolok terjadi dalam
                  ISEI dengan kaum birokrat Orde Baru sehingga
                  tidak ada seorang pun yang mampu membedakan
                  siapa ketua ISEI dan siapa pejabat negara, karena
                  ketua adalah pejabat dan pejabat adalah ketua.

            27  Mubyarto, op cit.., hlm. 187.


                                       xxxi
   27   28   29   30   31   32   33   34   35   36   37