Page 35 - BUKU PERDEBATAN PASAL 33 DALAM SIDANG AMANDEMEN UUD 1945
P. 35

Susanto Polamolo
            Elnino M. Husein Mohi
            PERDEBATAN PASAL 33
            DALAM SIDANG AMANDEMEN UUD 1945


                  Tarli Nugroho berhasil menelusuri apa  yang sebenarnya
                  31
            terjadi.  Sumitro waktu itu melakukan sejumlah terobosan, persis
            setelah hubungan diplomatik Indonesia-Belanda putus pada
            3 Mei 1956,  yang berimbas langsung ke dunia akademik. Para
            profesor ekonomi Belanda yang mengajar di seluruh Indonesia
            termasuk di FE-UI terpaksa harus kembali ke negerinya. Ini
            membuat FE-UI mengalami krisis staf pengajar.
                  Keadaan krisis semacam itu kemudian mendorong
            Soemitro untuk menjajaki kemungkinan agar bisa menyekolahkan
            murid-muridnya ke luar negeri. Sebagai seorang sosialis, Sumitro
            tentu saja menginginkan murid-muridnya agar belajar ekonomi
            menurut perspektif sosialis. Oleh karena itu, dia mengincar LSE 32
             (London School of Economics) sebagai mitra tempat para muridnya
            melanjutkan sekolah.
                  Sayangnya, British Council yang semula diharapkan menjadi
            donor untuk rencana Sumitro tersebut menyatakan tak mampu
            membiayai kerjasama FE-UI dengan LSE. Sumitro kemudian
            bergerilya mencari donor lain.  Ford Foundation menyambut
            rencana Sumitro, Ford bersedia tetapi mereka mencari universitas
            di Amerika bukan di Inggris. Dan itu tidak sesuai rencana Sumitro.
            Ia tak punya pilihan. Kerjasama—FE-UI,  Ford Foundation, dan
            Berkeley—itu pun dimulai secara resmi pada 19 Juli 1956.

            31  Lihat dalam buku, Ahmad Nashih Luthfi, Amien Tohari, Tarli Nugroho, Pemikiran Agraria
               Bulaksumur: telaah Awal atas Pemikiran Sartono Kartodirdjo, Masri Singarimbung, dan Mubyarto
               (Ed. Endriatmo Soetarto), Yogyakarta: Sains dan STPN, 2010, hlm. 199.
            32  Sumitro Djojohadikusumo, dekan FE-UI periode 1951-1957, sering menyebut FE-UI sebagai
               JSE (Jakarta School of Economics), elaborasi dari LSE sebagaimana diakuinya dalam buku
               Ekonomi Pembangunan yang terbit sekitar 1956. Dorodjatun KuntjoroJakti, dekan FE-UI,
               mengatakan kepada Warta Ekonomi di tengah acara Reuni Akbar FE-UI yang megah
               itu bahwa,  “Ketika Prof. Sumitro Djojohadikusumo membangun FE-UI, beliau langsung
               mencanangkan bahwa visinya seperti London School of Economics (LSE).” Jadi, kata Dorodjatun,
               ada garis pemikiran yang jelas tentang pembangunan Indonesia, tidak meminjam ke barat
               atau ke sosialis, kita ingin mengembangkan teori kita sendiri dari pengalaman yang kongkret
               di Indonesia.


                                      xxxiv
   30   31   32   33   34   35   36   37   38   39   40