Page 37 - BUKU PERDEBATAN PASAL 33 DALAM SIDANG AMANDEMEN UUD 1945
P. 37

Susanto Polamolo
            Elnino M. Husein Mohi
            PERDEBATAN PASAL 33
            DALAM SIDANG AMANDEMEN UUD 1945


                  Pasal 33 memang identik dengan para sosialis, dan itu
            tidak disukai oleh Suharto, sebagaimana ia tidak begitu menyukai
            Sumitro yang berlatar sosialis. Sehingga tak jarang, seperti ditulis
            Tarli Nugroho dalam pengantarnya yang cemerlang di buku yang
            ditulis Dawam Rahardjo tentang Sumitro, sebagai aktivis politik,
                                                34
            Sumitro memang sering jadi obyek serangan politik sekaligus
            jadi  obyek  kesalahpahaman  lain  yang  dituduhkan  kepadanya.
            Salah satunya persoalan Mafia Berkeley yang diuraikan di atas.
            Dan itu artinya, menyangkut juga ekonomi Orde Baru yang telah
            melenceng dari konstitusi. Sumitro dianggap harus bertanggung
            jawab.
                  Dawam Rahardjo, 35   dalam buku tentang Sumitro dan
            pemikirannya, mengajak kita untuk melihat lebih jauh apa yang
            menjadi persoalan sebenarnya.
                  Ketika Kabinet  Ampera dibentuk di tahun-tahun transisi
            1966-1969, persis setelah Bung Karno ditumbangkan, Sumitro
            masih  berada di  luar negeri.  Ia bersedia kembali  ke tanah  air
            atas permintaan  Adam Malik, Menlu saat itu. Sekembalinya di
            tanah air, ia diangkat menjadi sebagai Menteri Perindustrian dan
            Perdagangan dalam Kabinet Pembangunan I.
                  Kenapa Sumitro mau menerima posisi itu, bukan
            posisi sentral, tak seperti murid-muridnya  Widjojo cs  yang
            mengendalikan ekonomi melalui Bappenas?  Apakah mereka
            mewakili sosialis seperti dirinya?
                  Para teknokrat UI, seperti Widjojo cs, memang dianggap
            sebagai orang-orang PSI karena mereka murid Sumitro, padahal
            mereka bukan anggota PSI. Dari murid-muridnya itu, Emil
            34  Tarli Nugroho, dalam buku, Dawam Rahardjo, Nasionalisme Sosialisme dan Pragmatisme:
               Pemikiran Ekonomi Politik Sumitro Djojohadikusumo, Jakarta: LP3ES, 2017.
            35  Ibid..,


                                      xxxvi
   32   33   34   35   36   37   38   39   40   41   42