Page 36 - BUKU PERDEBATAN PASAL 33 DALAM SIDANG AMANDEMEN UUD 1945
P. 36
CATATAN PENDAHULUAN
Dalam biografinya Sumitro mengaku bahwaEsebenarnya ia
tidak terlalu suka dengan model pendidikan ekonomi di Amerika
yang kapitalistik. Tapi karena kebutuhan mendesak, dia akhirnya
sepakat dengan Ford. Tarli menegaskan, Sumitro sebenarnya
33
tetap berkehendak agar murid-muridnya menjadi sosialis seperti
dirinya. Tapi, sejarah berkehendak lain. Widjojo, Suhadi, Emil
Salim, Sumarlin, dan Ali Wardhana, kemudian menjadi pembela
ekonomi pasar yang teguh sepulang dari Amerika. Mereka
kemudian dijuluki sebagai Mafia Berkeley.
Jalan menikung murid-muridnya, Mafia Berkeley,
menunjukkan bahwa mereka telah mengambil pilihan yang
berbeda dengan gurunya. Memoar Ventje H.N. Sumual (2011)
dengan tegas memperjelas posisi antara Sumitro dengan
muridnya-muridnya tersebut.
Di antara murid-murid Sumitro yang segenerasi dengan
Mafia Berkeley hanya Daoed Jusuf, dalam penelusuran Tarli, yang
menolak disekolahkan ke Amerika. Mantan Menteri Pendidikan
dan Kebudayaan (1978-1983) itu memilih Perancis. Di sana ia
menggondol dua gelar doktor. Yang satu di bidang keuangan
internasional, yang satunya lagi di bidang hubungan internasional.
Itu sebabnya, pemikiran Daoed agak berbeda dengan
rekan-rekannya dari FE-UI. Daoed sering mengkritik secara
terbuka kebijakan ekonomi yang digagas oleh rekan-rekannya.
Salah satu asisten Daoed waktu itu adalah Sri-Edi Swasono.
Maka, tudingan Sri-Edi Swasono ke FE-UI dan ISEI dalam uraian
sebelumnya, dengan demikian memiliki latar belakangnya sendiri
sebagaimana telah diuraikan di atas.
33 Alasan lainnya kenapa Soemitro menerima Ford, karena ketua departemen ekonomi Berkeley
adalah kawannya. Andreas Papandreou namanya, sosialis Yunani, yang juga tak betah dengan
iklim akademik, dan bergeser pada 1960-an kembali ke Yunani. Tarli Nugroho, dalam Ahmad
Nashih Lutfhie, dkk, op cit.., hlm. 252-253.
xxxv

