Page 33 - BUKU PERDEBATAN PASAL 33 DALAM SIDANG AMANDEMEN UUD 1945
P. 33

Susanto Polamolo
            Elnino M. Husein Mohi
            PERDEBATAN PASAL 33
            DALAM SIDANG AMANDEMEN UUD 1945

                        Dalam hal ISEI hampir-hampir tidak mungkin
                  dikatakan aliansi…unsur-unsurnya, terutama dalam
                  hal  kepemimpinannya,  berhimpitan  begitu  serupa
                  sehingga lebih merupakan unifikasi daripada aliansi.
                  Bilamana ISEI dikatakan aktif dalam Orde Baru dan
                  tahun 1971 diambil sebagai garis awal maka para ketua
                  ISEI dan menteri kabinet-kabinet Orde Baru hampir-
                  hampir tak bisa dibedakan…sirkulasi kepemimpinan
                  organisasi ini sangat rendah dan sepanjang 28
                  tahun, dari 1971-1999, ISEI hanya mengenal 4 orang
                  ketua—Emil  Salim,  Arifin  Siregar,  J.B.  Sumarlin,
                  dan Marzuki Usman—untuk 8 kali masa jabatan
                  yang terdiri dari 4 tahun tenggang masa jabatan. 28


                  Meski organisasi-organisasi teknokrat bertebaran, tetapi
            tidak serta merta  yang diperjuangkan adalah Pasal 33, atau
            pemikiran-pemikiran  yang dikembangkan dari pasal tersebut,
            apalagi koperasi. ISEI adalah contohnya paling nyata. Sri-Edi
            Swasono  bahkan  menyayangkan  Pasal  33 seringkali  jadi  bahan
            cibiran oleh para ekonom ISEI  yang sangat neoklasikal dan
            neoliberal minded. Para ekonom ISEI, menurut Sri-Edi Swasono, tidak
            menganggap penting kedudukan konstitusi, khususnya Pasal 33—
            segala konsep yang berkaitan dengannya—sebagai guiding rules
            politik perekonomian Indonesia. Mereka, tulis Sri-Edi Swasono 29
             dalam prolognya di buku Fadli Zon, bahkan telah dengan sengaja
            menggusur Pasal 33 dari bahan-bahan perkuliahan, seperti yang
            terjadi di FE-UI. Bahkan lebih gawat. Pada tahun 1975, Rektor UI
            28  Selengkapnya baca Daniel Dhakidae, Cendekiawan dan Kekuasaan dalam Negara Orde Baru,
               Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2003, hlm. 307-309.
            29  Fadli Zon, op cit.., hlm. xix.


                                      xxxii
   28   29   30   31   32   33   34   35   36   37   38