Page 44 - BUKU PERDEBATAN PASAL 33 DALAM SIDANG AMANDEMEN UUD 1945
P. 44

CATATAN PENDAHULUAN





            jurusan, Ekonomi  Agraria, Kenegaraan, Ekonomi Sosiologi, dan
            Ekonomi Perusahaan. Menyimak jurusan-jurusan itu kiranya
            penilaian Mohamad Sadli benar adanya.  Thee Kian  Wie juga
            melengkapi catatan Sadli, di antara kedua fakultas ekonomi itu
            (UI dan UGM) dibedakan masing-masing oleh sebuah jurusan:
            jika di UI ada Ekonomi Pemerintahan, maka di UGM ada Ekonomi
            Pertanian—yang ditambahkan pada tahun 1965 dengan nama
                                                                    44
            Jurusan Ekonomi Pertanian dan Pembangunan Masyarakat Desa
            Jurusan tersebut merger antara jurusan Agraria dan Koperasi &
            Pembangunan Masyarakat Desa.
                  Perbedaan corak itu semakin terlembaga ketika FE-UI
            membuka afiliasi keilmuan dengan perguruan tinggi di Amerika,
            yakni Universitas California, Berkeley, yang disponsori oleh Ford
            Foundatian, seperti telah diuraikan sebelumnya. Sedangkan FE-
            UGM  membuka  afiliasi  keilmuan  dengan  Universitas Wisconsin
            yang terkenal dengan studi ekonomi pertanian dan ekonomi
            kelembagaannya.
                  Seluruh riwayat genealogi pemikiran, persinggungan,
            polemik,  dan  afiliasi  keilmuan  yang  terlembaga  inilah  yang
            kemudian melatari perdebatan Pasal 33 ketika UUD 1945
            diamandemen sepanjang tahun 1999-2000 yang lalu. Perdebatan
            yang  meruncing  menjadi  perdebatan  antara  “mazhab  Jakarta”
            mewakili FE-UI dengan “mazhab Yogya” mewakili FE-UGM.
                  Perbedaan seperti itu terlihat bahkan sejak awal  Tim
            Ahli  bidang  ekonomi  ditunjuk  untuk  membahas  Bab  tentang
            Perekonomian Nasional dan Kesejahteraan Sosial. Tim Ahli yang
            dikoordinatori oleh Mubyarto itu beranggotakan Dawam Rahardjo,
            Sri Adiningsih, Sri Mulyani (Sekertaris), Syahrir, Bambang Sudibyo,
            Didik Rachbini.

            44  Ibid.., hlm. 250.


                                       xliii
   39   40   41   42   43   44   45   46   47   48   49