Page 95 - BUKU PERDEBATAN PASAL 33 DALAM SIDANG AMANDEMEN UUD 1945
P. 95

Susanto Polamolo
            Elnino M. Husein Mohi
            PERDEBATAN PASAL 33
            DALAM SIDANG AMANDEMEN UUD 1945

                  dari penyusunan dan pengembangan perekonomian
                  nasional. Ini berarti dalam mengelola dan
                  memanfaatkan  bumi, air,  dirgantara dan kekayaan
                  alam yang tenkandung di dalamnya harus selalu
                  mernperhatikan aspek tata lingkungan hidup, hak
                  ulayat, dan keseimbangan kemajuan seluruh wilayah
                  Indonesia.


                  Pendapat akhir fraksi menjadi penutup, selanjutnya
            disepakati,  atau  lebih  tepatnya,  komitmen  rumusan  hasil
            kesepakatan PAH-I, yaitu: 17


                        “Perekonomian disusun dan dikembangkan
                  sebagai usaha bersama seluruh rakyat dan secara
                  berkelanjutan berdasar atas asas keadilan, efisiensi,
                  danTdemokrasiTekonomi,TuntukTmewujudkan
                  kemakmuran, kesejahteraan, dan keadilan sosial bagi
                  seluruh rakyat”.


                  Dengan rumusan tersebut, bentuk usaha bersama dan
            asas kekeluargaan mestinya telah mendapatkan pijakannya. Pun
            halnya dengan pengertian “dikuasai oleh negara”, cukup terang
            dipertegas dengan pemahaman bahwa, negara mempunyai
            kewenangan untuk mengatur mengenai cabang-cabang
            produksi  yang penting dan mengenai bumi, air dan dirgantara
            serta kekayaan alam yang terkandung di dalamnya.
                  Juga dipertegas bahwa, pelaku ekonomi adalah koperasi,
            BUMN, dan usaha swasta, termasuk usaha perseorangan. Semua

            17  Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi, Naskah Komprehensif Perubahan
               Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945: Latar Belakang, Proses, dan Hasil
               Pembahasan 1999-2002, Buku VII Keuangan, Perekonomian Nasional, dan Kesejahteraan
               Sosial, Edisi Revisi, 2010, hlm.557-558.


                                       34
   90   91   92   93   94   95   96   97   98   99   100