Page 74 - MAJALAH 138
P. 74

PERNIK



                        Parlemen dan Perempuan:



                             Problem keterwakilan






                                               Oleh Nining Indra Shaleh



                angat tak berimbang. Itu-                                    101 orang (78,9%). Dan naik lagi pada
                lah  komposisi keterwakilan                                  periode 2009 – 2014: menjadi 35 orang
                perempuan di parlemen                                        (26,51%). Untuk lembaga parlemen di
          Sdibanding pria. Ketidak ber-                                      bawahnya juga tetap rendah komposisi
          imbangannya terjadi sejak negeri                                   keterwakilan perempuan: rata-rata
          ini memiliki lembaga parlemen                                      16,14% di DPRD Provinsi serta 14% di
          hingga saat ini. Yang perlu kita catat,                            DPRD kabupaten/kota.
          bukanlah semata-mata persoalan                                          Perlu kita catat, keterwakilan
          ketidakberimbangan itu, tapi                                       perempuan bukan hanya masih terlalu
          bagaimana kualitas keberpihakan                                    jauh dari komposisi keberimbangan
          yang mendalam terhadap kepentingan                                 ideal, tapi juga jauh dari amanat UU
          perempuan sehingga berpengaruh                                     yang telah diputuskan, yakni 30%.
          nyata bagi kepentingan nasional?                                   Pasal 55 Undang-Undang Nomor 8
            Sungguh problematik ketika bicara                                Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan
          lebih konkret tentang keterwakilan                                 Pemilihan Umum DPR, DPD dan
          kaum Hawa dalam panggung parlemen.                                 DPRD jelas-jelas amanatkan kuota
          Jumlah populasi perempuan –                                        perempuan 30%. Bahkan Pasal 56 ayat
          katakanlah di negeri ini – masih lebih                             foto : eka/iw  2 menyebutkan, dalam setiap tiga orang
          tinggi dibanding pria. Setidaknya                                  bakal calon terdapat minimal satu orang
          kondisi saat ini, kita memiliki data:   Nining Indra Shaleh        perempuan. Ketentuan ini diperkuat
          untuk usia di bawah 15 tahun, jumlah                               dengan Peraturan Komisi Pemilihan
          perempuan Indonesia sebesar      29 (6,3%) untuk perempuan dan pria   Umum (KPU) Nomor 7 Tahun 2013 pada
          35.298.880 jiwa, sedangkan pria   460 (93,7%). Periode1982 – 1987, wakil   Pasal 11b,11d, 24 ayat 1c-d dan ayat 2.
          sebesar 33.034.383 jiwa. Dan untuk usia   perempuan 39 (8,5%), pria 460 (91,5%).   Yang menarik  adalah,  parpol
          15 – 64 tahun, perempuan Indonesia   Hasil pemilu 1987 – 1992, naik drastis   manapun terancam gugur ikut serta
          sebanyak 78.969.160 jiwa, sedangkan   keterwakilan perempuan: mencapai   dalam  pentas  pemilu  jika  daftar
          kaum pria sebesar 78.083.952 juta.   65 orang (13%), sedangkan pria 500   perempuan kurang dari kuota yang
          Secara kuantitatif-komparatif, jumlah   orang (87%). Jika ditelaah secara spe-  ditentukan UU itu. Sekali lagi, spirit
          kaum perempuan lebih besar. Maka,   sifik, kenaikan jumlah keterwakilan   artikulatif  terhadap  kepentingan
          seharusnya keterwakilan unsur    perempuan karena keputusan politik   perempuan sudah demikian jelas.
          perempuan – minimal – 50%, bukan   terkait jumlah anggota Dewan yang   Namun – dan inilah yang masih
          30% apalagi lebih rendah.        memang naik: yakni, totalnya 560 orang.   menimbulkan keprihatinan mendalam
              Tapi, idealitas keterwakilan     Sementara itu, periode 1992 – 1997,   bagi kepentingan perempuan – bahwa
          perem puan di parlemen Indonesia   wakil perempuan sebanyak 62 orang   ketentuan UU Pemilu yang sudah pro
          ma sih terlalu jauh. Catatan menun-  (12,5%), sedangkan lelaki 500 orang   kaum “Hawa” masih belum cukup.
          jukkan, pada periode 1950 – 1955   (87,5%). Periode 1997 – 1999, sebanyak    Sebuah potret ketidakmampuan
          (DPR Sementara), wakil dari unsur   54 (10,8%) dan pria tetap sama: 500   perempuan dalam mengarungi
          perempuan hanya sembilan orang   orang (89,2%). Periode 1999 – 2004,   kontestasi    politik terbuka? Tidak
          (3,8%), sedangkan pria mencapai 236   46 (9%) dan pria juga 500 orang (91%).   sepenuhnya benar dan atau salah
          orang (96,2%). Periode1955 – 1960, 17   Hasil pemilu 2009, hanya mengantarkan   penilaian itu. Fakta menunjukkan, hanya
          (6,3%) perempuan dan 222 (93,7%) pria.   wakil perempuan 18,2% dan 17,32%   kaum perempuan yang terkategori
          Periode Konstituante (1956 – 1959):   pada pemilu tahun 2014. Sedangkan   “super” (karena punya modalitas sosial
          25 (5,1%) perempuan : 488 (94,9%)   untuk Dewan Perwakilan Daerah (DPD)   yang cukup kuat sebelumnya dan atau
          pria. Periode 1971 – 1977, 36 (7,8%)   untuk periode 2004 – 2009, hanya   punya keunggulan finansial) itulah
          wakil perempuan, sedangkan pria 460   mampu antarkan 27 orang senator   yang mampu menerobos persaingan
          (92,2%). Untuk periode 1977 – 1982,   (21%), sementara senator pria sebanyak   hegemonis pria.


        74      l  PARLEMENTARIA  l  EDISI 138 TH. XLVI - 2016
   69   70   71   72   73   74   75   76   77   78   79