Page 135 - Generasi Muda Reforma Agraria
P. 135
114 Generasi Muda Reforma Agraria
Sajali menjadi 10 hektar. Sebelum terjadinya kesepakatan,
semua lahan tersebut sudah dijual tanpa melalui Desa,
disamping sebenarnya tanah tersebut masuk dalam teritorial
Desa Klaces.
Kesalahpahaman antara pemilik tanah, Desa, dan pembeli
mulai terjadi ketika tidak ada perjanjian hitam diatas putih atas
jual beli tanah. Pihak Pembeli (Pak Sugeng) tidak memiliki
bukti pembayaran, sedangkan penjual (Kepala Desa) merasa
tidak memberi perjanjian apapun kepada pembeli. Dengan
demikian, Pak Sugeng diusir dari kepemilikan tanah karena
tidak memiliki bukti kuat. Masyarakat meyakini bahwa Kepala
Desa ialah pemicu konlik dalam kasus ini. Kasus digulirkan
hingga ke kecamatan dengan melibatkan Kepala Desa, BPD,
LPPMD, dan Camat. Jangka waktu penyelesaiannya memakan
waktu hingga satu setengah tahun. Akibat dari kasus tersebut,
terjadi pergolakan besar dari masyarakat yang menuntut
Kepala Desa bertanggungjawab penuh dan melakukan ganti
rugi atas kerugian masyarakat. Disinyalir hasil penjualan
tersebut dipergunakan untuk kepentingan pribadi seperti
membeli tanah dan akses wii di rumahnya.
Dari kasus di atas diketahui bahwa kepemilkan pribadi
yang tercantum di buku Kasdastar atas Tanah Bengkok
Ujung Alang bermula. Tanah Bengkok merupakan daratan
hasil sedimentasi. Dalam buku tersebut, tertulis bahwa ada
pembagian Tanah Bengkok kepada sejumlah perangkat desa.
Menurut Pak Junaedi, Kepala Urusan Pemerintahan Desa
Klaces, apapun yang sudah masuk dalam buku tersebut telah
memiliki SPPT secara pribadi. Hal ini diperkuat pula dengan

