Page 137 - Generasi Muda Reforma Agraria
P. 137
116 Generasi Muda Reforma Agraria
teori sengketanya yang melihat bahwa dalam kelompok sosial
posisi seseorang sangat menentukan otoritas dalam kelompok
tersebut. Dalam kasus penjualan Tanah Bengkok di Ujung
Alang oleh aparat desa Klaces, di satu sisi, ia tidak memiliki hak
atas tanah tersebut tetapi di sisi lain, ia memiliki celah-celah
untuk dapat memiliki manfaat dari tanah yang bukan miliknya
tersebut. Kajian mengenai property yang ditulis dalam Ribot
dan Peluso (2003:154) yang berkata, “ideas of ownership or title
as deined by law, custom, or convention”. Oknum ini sejatinya
tidak memiliki hak atas tanah tersebut, tapi ia dapat mengakses
tanah melalui power-nya. Seorang aktor memanfaatkan
bundle of powers dan webs of powers mereka di ranah politik
dan ekonomi untuk menjaga propertinya. Secara moral dan
legal, Kepala Desa Klaces telah menyimpang dengan menjual
common property yang adalah hak dari setiap masyarakat ke
pihak lain sebagai private property miliknya. Dengan demikian,
meskipun Kepala Desa masih memiliki power, namun telah
kehilangan kepercayaan dan legitimasi dari masyarakat.
Keterlibatan pemimpin lokal non pejabat formal menjadi
penting dalam menengahi krisis kepercayaan dan sengketa.
Masyarakat akhirnya lebih cenderung diam dengan kasus ini
karena sudah merasa acuh dan merasa dikhianati. Meskipun
beberapa masyarakat menuntut sang Kepala Desa untuk
lepas jabatan dalam hatinya. Akibat krisis kepercayaan,
menurut pengamatan, banyak masyarakat melakukan
kegiatan administratif langsung ke Camat dengan melangkahi
keberadaan Desa. Mereka menganggap bahwa Camat adalah
orang yang masih dapat dipercaya pada struktur pemerintahan

