Page 136 - Generasi Muda Reforma Agraria
P. 136
Kumpulan Naskah Esai Terbaik Pada Lomba Esai Agraria 115
perkataannya, “jika ada oknum nakal yang menjual tanah
tersebut, sifatnya resmi dan legal secara hukum, tidak dapat
disalahkan”. Hal demikian berbanding dengan penuturan Pak
Siswanto selaku petugas Desa Ujung Alang bahwa Desa Ujung
Alang tidak pernah mengeluarkan kebijakan pengatasnamaan
pribadi perangkat desa atas Tanah Bengkok. Tapi, setelah saya
diperlihatkan dokumen bahwa data tersebut dikeluarkan
pada tahun 2002, pada saat itu ada pengukuran agraria untuk
memudahkan penghitungan. Sehingga luas Tanah Bengkok
di Ujung Alang kini berkurang dan lokasi yang menjadi
permasalahan berstatus dibawah Desa Klaces.
Akibat pengakuan yang tertera di buku Kasdastar, saat ada
pengukuran dari petugas agraria di lokasi Tanah Bengkok di
Ujung Alang yang masuk wilayah Klaces, tidak ada perangkat
desa Ujung Alang yang mengkonirmasi kepemilikan lahan
tersebut sebagai milik desa. Kemudian ada oknum perangkat
desa Klaces yang mengaku tanah tersebut milik pribadi,
yakni Pak Junaedi. Beliau mengaku mendapatkan hak atas
tanah tersebut dari pemberian petugas Kecamatan, kemudian
setelah keluar SPPT atas nama Pak Junedi, beliau menjualnya
kepada orang lain. Kisruh mengenai kepemilikan Tanah
Bengkok menjadi berlarut-larut karena tidak adanya tata
kelola agraria yang baik dan penyimpangan oleh oknum Desa.
Menanti Kehadiran Pemimpin Lokal
Terlihat dari beberapa kasus diatas bahwa sengketa
terjadi akibat pelanggaran konsensus-konsensus yang ada
sebelumnya sejalan dengan Ralf Dahrendorf (1959:36) pada

