Page 172 - MANAJEMEN KEUANGAN PUBLIK: PRINSIP, REGULASI, DAN IMPLEMENTASI
P. 172

BAGIAN  II   151
                                                           Penganggaran

                Prosedur pengelolaan hibah dirinci secara operasional, terutama
            dalam  hal penarikan  dan  pencatatan.  Hibah  yang penarikannya
            melalui Kuasa  Bendahara Umum Negara (BUN) mengikuti
            mekanisme yang telah distandardisasi, sementara hibah yang tidak
            melalui  Kuasa BUN—seperti  dana untuk  kegiatan tertentu  atau
            bantuan barang—harus melalui proses pengesahan oleh KPPN. Salah
            satu aspek penting adalah penerbitan nomor register sebagai dasar
            legalitas hibah. Nomor ini dikeluarkan oleh DJPPR untuk hibah luar
            negeri atau Kantor  Wilayah Ditjen Perbendaharaan untuk hibah
            dalam negeri, setelah melalui verifikasi kelengkapan dokumen seperti
            perjanjian hibah dan ringkasan proyek. Proses ini menegaskan prinsip
            transparansi dan akuntabilitas, di mana setiap rupiah hibah harus
            tercatat dalam sistem keuangan negara.
                Pencatatan hibah dalam APBN juga diatur secara rinci, termasuk
            penyesuaian pagu belanja dalam DIPA. Hibah yang diterima tetapi
            belum direvisi dalam DIPA tetap dapat digunakan, asalkan kemudian
            disesuaikan melalui mekanisme revisi anggaran. Regulasi ini bahkan
            mengantisipasi hibah tahun jamak (multi-year), di mana sisa pagu
            dapat dibawa ke tahun anggaran berikutnya. Selain itu, rekening
            khusus (Rekening Hibah) wajib dibuka untuk menampung dana hibah,
            dengan ketentuan bahwa jasa giro atau saldo yang tidak digunakan
            harus  disetor  ke  kas  negara  kecuali  diatur  lain  dalam  perjanjian.
            Ini menunjukkan  harmonisasi antara fleksibilitas penggunaan dan
            kepatuhan pada prinsip pengelolaan keuangan negara.

                Sanksi dan  ketentuan khusus dalam  regulasi ini menjadi
            pengingat akan konsekuensi pelanggaran. Kementerian/Lembaga
            yang tidak melaporkan hibah selama dua tahun berturut-turut dapat
            dilarang menerima hibah di tahun berikutnya. Lebih jauh, jika hibah
            digunakan tidak  sesuai perjanjian (ineligible), negara tidak akan
            menanggung kerugiannya—kecuali  hibah tersebut telah melalui
            proses registrasi dan pengesahan. Ini menegaskan bahwa pengelola
            hibah tidak hanya bertanggung jawab secara administratif, tetapi
            juga  secara  finansial.  Dengan  demikian,  PMK  No.  99/2017  tidak
   167   168   169   170   171   172   173   174   175   176   177