Page 169 - MANAJEMEN KEUANGAN PUBLIK: PRINSIP, REGULASI, DAN IMPLEMENTASI
P. 169

148    MANAJEMEN KEUANGAN PUBLIK: PRINSIP, REGULASI, DAN IMPLEMENTASI
                   Ilustrasi Pada Kementerian Agraria dan Tata Ruang/ Badan Pertanahan Nasional

            tertentu, Menteri Keuangan dapat menetapkan pengaturan tersendiri
            terhadap penggunaan dana PNBP jenis tertentu yang dinilai strategis,
            sesuai Pasal 57 PP 58/2020. Pendekatan ini memungkinkan fleksibilitas
            fiskal, namun dalam bingkai koordinasi pusat yang terkendali agar
            tidak menimbulkan fragmentasi fiskal (fiscal fragmentation) yang
            kontraproduktif terhadap disiplin fiskal makro.
                Dalam konteks penganggaran berbasis kinerja, penggunaan PNBP
            wajib mengacu pada Standar Biaya sebagaimana diatur dalam Pasal 47
            s.d. 53 PMK Nomor 62 Tahun 2023, yang terdiri atas: Standar Biaya
            Masukan (SBM), Standar Biaya Keluaran (SBK), dan Standar Struktur
            Biaya (SSB). Ketiga standar ini berfungsi sebagai instrumen normatif
            untuk memastikan bahwa belanja negara yang bersumber dari PNBP
            sesuai dengan prinsip efektivitas, efisiensi, dan keterukuran kinerja.
            Hal ini menguatkan prinsip money follows function and performance,
            di mana alokasi anggaran harus didasarkan pada keluaran yang jelas
            dan terukur, bukan semata pada ketersediaan dana.

                Berbeda dengan PNBP yang dikelola oleh kementerian/lembaga
            (K/L) pada umumnya yang harus disetor penuh ke Rekening Kas
            Umum Negara dan hanya dapat digunakan kembali setelah mendapat
            persetujuan Menteri Keuangan, PNBP yang diperoleh oleh  Badan
            Layanan Umum (BLU)  memiliki karakteristik pengelolaan yang
            lebih fleksibel dan otonom. Berdasarkan Pasal 66 Undang-Undang
            Nomor 9 Tahun 2018, pendapatan yang diperoleh BLU dikategorikan
            sebagai PNBP, namun dapat digunakan langsung untuk membiayai
            belanja  operasional  dan  pelayanan  publik  yang  menjadi  tugas
            BLU tersebut, tanpa harus melalui mekanisme persetujuan pagu
            penggunaan sebagaimana berlaku pada instansi non-BLU. Skema
            ini dimaksudkan untuk memperkuat prinsip kemandirian fiskal dan
            efisiensi pelayanan publik yang diselenggarakan secara nirlaba oleh
            BLU, dengan tetap mengacu pada ketentuan khusus dalam regulasi
            pengelolaan keuangan BLU, seperti diatur dalam PP 23/2005 jo. PP
            74/2012 dan regulasi teknis turunannya.
                Dengan seluruh kerangka tersebut, PNBP menjadi pengeja-
            wantahan  prinsip  pengelolaan  fiskal  yang  berkelanjutan,  yang
   164   165   166   167   168   169   170   171   172   173   174