Page 168 - MANAJEMEN KEUANGAN PUBLIK: PRINSIP, REGULASI, DAN IMPLEMENTASI
P. 168

BAGIAN  II   147
                                                           Penganggaran

                Selanjutnya, fase pelaksanaan sebagaimana diuraikan dalam
            Pasal 15 PP 58/2020 meliputi enam aspek penting: penentuan PNBP
            terutang, pemungutan, pembayaran  dan penyetoran, pengelolaan
            piutang, penagihan,  serta penggunaan  dana. Ini mencerminkan
            disiplin anggaran (budgetary discipline) dan prinsip transparansi
            fiskal yang ketat, di mana setiap pungutan harus sah secara hukum,
            akurat dalam pencatatan, dan sesuai dengan prinsip efisiensi dan
            akuntabilitas  publik. Bahkan, dalam hal pengelolaan piutang  dan
            pelaporan, instansi teknis dituntut untuk menyelenggarakan sistem
            informasi yang memadai dan terintegrasi dengan sistem APBN.

                Meskipun PNBP dikelola oleh instansi penghasil,  mekanisme
            penggunaannya tunduk pada prinsip kontrol fiskal pusat. Pasal 53–
            57  PP 58/2020  menyatakan bahwa instansi pengelola hanya  dapat
            menggunakan dana PNBP setelah memperoleh persetujuan dari
            Menteri Keuangan, dengan mempertimbangkan kondisi keuangan
            negara, arah kebijakan fiskal, dan urgensi kebutuhan. Persetujuan ini
            menjadi dasar pengajuan pagu penggunaan dalam Rencana PNBP dan
            proses penyusunan RKA. Bahkan, Menteri Keuangan dapat meninjau
            kembali persetujuan tersebut secara periodik sebagai bentuk kontrol
            dinamis terhadap perubahan fiskal. Mekanisme ini mencerminkan
            prinsip  controlled discretion  dalam tata kelola fiskal modern, yang
            memberikan keleluasaan terbatas namun tetap  dalam kerangka
            kontrol dan koordinasi nasional yang kuat. Sebagai ilustrasi, meskipun
            Kementerian Agraria dan Tata Ruang/BPN memperoleh persetujuan
            prinsip untuk menggunakan maksimal 85,54% dari total penerimaan
            PNBP dari  layanan pertanahan,  dalam praktiknya, besaran pagu
            indikatif yang diberikan  sering  kali lebih  kecil. Contohnya, pada
            tahun 2025, pagu penggunaan PNBP yang diberikan hanya sekitar
            Rp1,9 triliun dari yang seharusnya sekitar Rp2,7 triliun dengan potensi
            penerimaan  sekitar 3,2 triliun. Hal ini menegaskan bahwa alokasi
            anggaran, sekalipun berasal dari sumber penerimaan mandiri, tetap
            diatur secara ketat dalam kerangka pengendalian fiskal negara.

                Untuk menjamin integritas fiskal, PNBP tetap disetor penuh ke
            RKUN  sebelum dapat digunakan  kembali.  Bahkan,  dalam  kondisi
   163   164   165   166   167   168   169   170   171   172   173