Page 165 - MANAJEMEN KEUANGAN PUBLIK: PRINSIP, REGULASI, DAN IMPLEMENTASI
P. 165

144    MANAJEMEN KEUANGAN PUBLIK: PRINSIP, REGULASI, DAN IMPLEMENTASI
                   Ilustrasi Pada Kementerian Agraria dan Tata Ruang/ Badan Pertanahan Nasional

            kegiatan Kementerian/Lembaga (K/L) yang sepenuhnya berasal dari
            penerimaan  dalam  negeri,  khususnya  dari pendapatan perpajakan
            dan bukan dari penerimaan yang ditentukan penggunaannya. Sumber
            dana  ini  menjadi  representasi  langsung  dari  daya  fiskal  negara
            yang digunakan untuk mendanai berbagai prioritas nasional yang
            tidak terikat oleh sumber pembiayaan eksternal, seperti hibah atau
            pinjaman, maupun penerimaan negara bukan pajak (PNBP).
                Dalam konteks perencanaan dan penganggaran, Rupiah Murni
            diatur secara eksplisit dalam berbagai regulasi, terutama Peraturan
            Menteri Keuangan (PMK) Nomor 62 Tahun 2023 tentang Perencanaan
            Anggaran, Pelaksanaan Anggaran, serta  Akuntansi dan  Pelaporan
            Keuangan. Pasal 47 ayat (4) dalam PMK ini menegaskan bahwa seluruh
            perhitungan biaya yang dananya bersumber dari Rupiah Murni harus
            memedomani Standar Biaya, termasuk Standar Biaya Masukan (SBM),
            Standar  Biaya  Keluaran (SBK), dan  Standar Struktur Biaya (SSB).
            Ketentuan ini menunjukkan bahwa penggunaan Rupiah Murni bukan
            sekadar soal alokasi, tetapi terkait erat dengan disiplin penganggaran,
            efisiensi penggunaan anggaran, serta pertanggungjawaban keuangan
            negara.
                Rupiah  Murni  juga  mencerminkan  otonomi  fiskal  pemerintah
            pusat, karena alokasinya tidak dikunci  oleh  perjanjian atau
            ketentuan pihak eksternal. Sebagai konsekuensinya, tanggung jawab
            perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan atas penggunaannya
            berada  sepenuhnya di tangan pemerintah, dengan mekanisme
            internal yang harus menjamin transparansi, akuntabilitas, dan
            kesesuaian terhadap prioritas nasional sebagaimana termuat dalam
            Rencana Kerja Pemerintah (RKP) dan Renja K/L. Dalam praktiknya,
            alokasi Rupiah Murni dituangkan dalam Rencana Kerja dan Anggaran
            (RKA) dan kemudian  disahkan dalam Daftar Isian Pelaksanaan
            Anggaran (DIPA) setelah melalui penelaahan dan reviu sebagaimana
            diatur dalam PMK 62/2023 jo. PMK 107/2024.
                Jenis belanja yang paling umum menggunakan  sumber dana
            Rupiah  Murni  adalah belanja  pegawai, meskipun sumber dana  ini
            bisa juga digunakan ke jenis belanja lainnya, misalnya belanja barang
   160   161   162   163   164   165   166   167   168   169   170