Page 161 - MANAJEMEN KEUANGAN PUBLIK: PRINSIP, REGULASI, DAN IMPLEMENTASI
P. 161

140    MANAJEMEN KEUANGAN PUBLIK: PRINSIP, REGULASI, DAN IMPLEMENTASI
                   Ilustrasi Pada Kementerian Agraria dan Tata Ruang/ Badan Pertanahan Nasional

            sekadar instrumen administratif, melainkan fondasi epistemik dalam
            rekonstruksi paradigma penganggaran modern yang berbasis capaian.
            Penyusunan SBM sendiri melibatkan metodologi kuantitatif yang
            cukup kompleks, seperti pendekatan evaluasi pekerjaan berbasis point
            factor, metode pembandingan (benchmarking), survei harga pasar,
            penghitungan lembur, dan pendekatan biaya pengganti (replacement
            cost).  Metodologi  ini  menegaskan  bahwa  penetapan  standar  biaya
            bukan sekadar estimasi statis, melainkan produk teknokratis dari
            proses evaluasi ekonomi dan kebijakan publik.

                Selain sebagai instrumen perhitungan anggaran, standar biaya
            juga berperan sebagai  mekanisme pengendalian internal dalam
            pelaksanaan anggaran. Ketentuan dalam Pasal 49–50 PMK 62/2023
            mengatur  kondisi  di  mana  satuan  biaya  dapat  melebihi  standar
            yang telah ditetapkan,  termasuk honorarium bagi pejabat negara
            atau ASN atas pelaksanaan tugas tambahan yang bersifat strategis
            dan membutuhkan justifikasi khusus. Prosedur pengusulan
            pelampauan biaya dilakukan secara ketat dan harus disertai kajian
            komprehensif yang mencakup dasar hukum, justifikasi kebutuhan,
            waktu penerapan, dan dampak anggarannya. Dalam konteks Badan
            Layanan Umum (BLU),  pemimpin Satker  memiliki kewenangan
            untuk menetapkan standar biaya dalam penyusunan Rencana Bisnis
            dan Anggaran (RBA), khususnya untuk kegiatan yang bersumber dari
            PNBP. Namun demikian, pengeluaran yang menambah penghasilan
            atau fasilitas tetap harus mendapatkan persetujuan dari Menteri
            Keuangan, sebagaimana diatur dalam Pasal 50 ayat (3)–(5).

                Hubungan antara  standar  biaya  dan  pendekatan anggaran
            berbasis kinerja sangat inheren dan tak terpisahkan. Tanpa kerangka
            standar biaya yang objektif, pengukuran efisiensi  dan efektivitas
            output menjadi ilusi semata. Standar biaya  menjadi basis rasional
            dalam menetapkan  unit cost,  merancang struktur kegiatan, dan
            memastikan bahwa  setiap rupiah yang dikeluarkan menghasilkan
            manfaat publik yang maksimal. Dalam bahasa teknokratik, standar
            biaya adalah instrumentum regulativum yang menjamin kohesi antara
            belanja negara dan output pembangunan. Akhirnya, dalam kerangka
   156   157   158   159   160   161   162   163   164   165   166