Page 158 - MANAJEMEN KEUANGAN PUBLIK: PRINSIP, REGULASI, DAN IMPLEMENTASI
P. 158

BAGIAN  II   137
                                                           Penganggaran

            3.5.  Standar Biaya dan Penyusunan Anggaran Berbasis Kinerja

                Dalam ekosistem penganggaran negara  modern, praktik
            penyusunan anggaran tidak lagi dapat bersandar pada pendekatan
            tradisional yang semata-mata bersifat inkremental dan administratif.
            Pemerintah Indonesia,  melalui berbagai reformasi fiskal, telah
            mengarahkan  sistem anggaran menuju pendekatan  Performance-
            Based Budgeting  (PBB) atau penganggaran berbasis kinerja, yang
            menekankan hubungan kausal antara input, output,  dan  outcome
            dari program pemerintah. Salah satu instrumen fundamental yang
            menopang  pendekatan  ini adalah kehadiran  standar  biaya  yang
            baku dan rasional. Standar biaya berfungsi sebagai referensi obyektif
            dalam perhitungan kebutuhan anggaran yang efisien, efektif, dan
            terukur,  sekaligus  menjadi  fiscal  control device  terhadap  potensi
            inflasi anggaran (budgetary  inflation) akibat estimasi berlebih atau
            pemborosan.

                Menurut ketentuan Pasal 47 PMK Nomor 62 Tahun 2023, Standar
            Biaya dibedakan menjadi tiga kategori utama, yaitu: Standar Biaya
            Masukan (SBM), Standar Biaya Keluaran (SBK), dan Standar Struktur
            Biaya (SSB). Ketiganya membentuk sistem klasifikasi normatif yang
            bertujuan untuk mengarahkan setiap  satuan  kerja  kementerian/
            lembaga (Satker K/L) dalam menyusun Rencana Kerja dan Anggaran
            (RKA) secara lebih akuntabel, transparan, dan berbasis kebutuhan
            riil. Standar Biaya Masukan (SBM) adalah  standar biaya yang
            digunakan sebagai masukan (input) untuk menyusun rincian biaya
            dalam suatu  Keluaran.  SBM  merupakan  parameter biaya satuan
            atas jenis belanja tertentu seperti honorarium, fasilitas, perjalanan
            dinas, pemeliharaan, barang dan jasa, serta bantuan. SBM berlaku
            untuk beberapa atau seluruh K/L, dan dalam kasus tertentu dapat
            diberlakukan secara spesifik pada satu K/L dengan justifikasi teknis
            seperti lokasi terpencil atau kekhususan tugas pelayanan publik. SBM
            bersifat batas tertinggi (maximum ceiling), meskipun dapat dilampaui
            dalam pelaksanaan anggaran dengan syarat memperhatikan harga
            pasar  dan prinsip efisiensi. Sebagai  contoh,  dalam SBM Tahun
            Anggaran 2025 sebagaimana diatur dalam PMK No. 39 Tahun 2024,
   153   154   155   156   157   158   159   160   161   162   163