Page 263 - MANAJEMEN KEUANGAN PUBLIK: PRINSIP, REGULASI, DAN IMPLEMENTASI
P. 263

242    MANAJEMEN KEUANGAN PUBLIK: PRINSIP, REGULASI, DAN IMPLEMENTASI
                   Ilustrasi Pada Kementerian Agraria dan Tata Ruang/ Badan Pertanahan Nasional

            dan dampak  sosial, yang  melampaui  sekadar  pertimbangan  harga
            termurah semata. Pendekatan ini merefleksikan evolusi pemikiran
            dalam manajemen pengadaan publik dari paradigma cost-based
            menuju value-based procurement.

            Ketiga, Penggunaan Dan Pemanfaatan
                Fase penggunaan dan pemanfaatan Barang Milik Negara/Daerah
            (BMN/D) merupakan tahapan kritis dalam siklus pengelolaan aset
            publik, di mana aset tidak hanya berfungsi sebagai alat pendukung
            operasional pemerintahan, tetapi juga ditransformasikan menjadi
            instrumen  strategis  penciptaan  nilai  tambah. Secara konseptual,
            fase ini dibagi menjadi dua dimensi yang saling terkait: penggunaan
            operasional  oleh instansi pemerintah  sesuai tugas pokok dan
            fungsinya, serta pemanfaatan ekstraktif untuk mengoptimalkan
            potensi ekonomi aset tanpa mengubah status kepemilikannya. Dalam
            dimensi pertama,  BMN/D dimanfaatkan secara  langsung untuk
            menunjang penyelenggaraan pelayanan publik, seperti penggunaan
            gedung  perkantoran  untuk  aktivitas  administratif  atau  mobil
            dinas  untuk operasional lapangan.  Prinsip  fungsionalitas  menjadi
            panduan utama, di mana setiap aset  harus dialokasikan  sesuai
            dengan kebutuhan riil dan prioritas program kerja instansi, dengan
            menghindari praktik  idle asset  atau underutilization yang dapat
            menimbulkan inefisiensi fiskal.
                Pada dimensi kedua, pemanfaatan BMN/D dikembangkan melalui
            berbagai  skema yang bersifat komersial namun  tetap berorientasi
            pada kepentingan publik. Skema Sewa memungkinkan pemanfaatan
            aset negara oleh pihak ketiga dengan imbalan pembayaran yang
            wajib disetorkan ke Kas  Umum Negara/Daerah,  sementara skema
            Pinjam Pakai diterapkan untuk kerja sama antarinstansi pemerintah
            atau dengan pemerintah daerah tanpa  melibatkan transaksi
            komersial. Skema yang lebih kompleks seperti Bangun Guna Serah
            (BGS) dan Kerja Sama Pemanfaatan (KSP) dirancang untuk proyek-
            proyek  strategis,  di  mana  pihak  ketiga  diberi  hak  membangun
            dan mengoperasikan aset pada lahan milik negara selama periode
   258   259   260   261   262   263   264   265   266   267   268