Page 275 - MANAJEMEN KEUANGAN PUBLIK: PRINSIP, REGULASI, DAN IMPLEMENTASI
P. 275

254    MANAJEMEN KEUANGAN PUBLIK: PRINSIP, REGULASI, DAN IMPLEMENTASI
                   Ilustrasi Pada Kementerian Agraria dan Tata Ruang/ Badan Pertanahan Nasional

            mengadopsi pendekatan  berbasis risiko (risk-based approach) dan
            berorientasi pada keberlanjutan (sustainability-oriented), di mana
            setiap keputusan optimalisasi aset tidak hanya mempertimbangkan
            keuntungan jangka pendek, tetapi juga  dampak  jangka  panjang
            terhadap lingkungan sosial-ekonomi dan tata kelola pemerintahan
            yang baik.

            4.5.  Akuntabilitas dan Pengawasan dalam Pengelolaan Barang
                 Milik Negara/Daerah

                Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah (BMN/D) tidak hanya
            bertumpu pada efisiensi teknis, tetapi juga pada sistem akuntabilitas
            yang menjamin transparansi dan kepatuhan terhadap prinsipkeuangan
            publik. Dalam konteks ini, kerangka hukum yang diatur dalam
            Peraturan Pemerintah tentang Pengelolaan  BMN/D menegaskan
            bahwa setiap tahap pengelolaan—mulai  dari perencanaan hingga
            penghapusan—harus  didukung oleh mekanisme pelaporan dan
            verifikasi yang ketat. Sistem ini dirancang untuk memastikan bahwa
            aset negara, yang notabene dibiayai oleh anggaran publik, dikelola
            secara optimal dan bebas dari penyimpangan. Salah satu pilar utama
            akuntabilitas adalah kewajiban instansi pemerintah untuk mencatat
            seluruh aset secara rinci dalam sistem inventarisasi terpusat,
            termasuk status penggunaan, kondisi fisik, dan nilai wajar aset. Hal
            ini tidak hanya menjadi dasar penyusunan neraca pemerintah, tetapi
            juga berfungsi  sebagai alat monitoring  untuk  mencegah  duplikasi
            pengadaan, penelantaran  aset, atau bahkan pengalihan aset tanpa
            prosedur yang sah.

                Pengawasan terhadap BMN/D dilakukan melalui pendekatan
            multitier, melibatkan berbagai aktor dengan peran yang saling
            melengkapi. Di tingkat internal, setiap kementerian/lembaga wajib
            membentuk unit pengawasan yang bertugas memantau penggunaan
            dan pemanfaatan aset sesuai dengan tugas pokok dan fungsi instansi.
            Regulasi menekankan bahwa pengawasan tidak hanya bersifat
            administratif, tetapi juga substantif, termasuk evaluasi terhadap
            efektivitas  penggunaan  aset  dalam  mendukung  pelayanan  publik.
   270   271   272   273   274   275   276   277   278   279   280