Page 15 - MODUL JUAL BELI
P. 15

Barang yang diperjualbelikan itu harus diketahui banyak, berat, atau jenisnya.
                     Dalam sebuah hadis disebutkan:
                                   ررغلا عيب نعو ةاصلحا عيب نع ملس و هيلع الله ىلص الله لوسر ىنه : لاق ةريره بيأ نع

                           Dari  Abi  Hurairah  r.a.  ia  berkata,  Rasulullah  saw.  telah  melarang  jual  beli
                           dengan cara melempar batu dan jual beli yang mengandung tipuan. (HR Muslim)
                     c.  Syarat sah ijab qabul
                        1) Tidak  ada yang membatasi  (memisahkan). Si  pembeli  tidak boleh diam  saja
                           setelah si penjual menyatakan ijab, atau sebaliknya;
                        2) Tidak diselingi kata-kata lain;
                        3) Tidak ditaklikkan (digantungkan) dengan hal lain. Misalnya jika bapakku mati,
                           maka barang ini aku jual padamu;
                        4) Tidak dibatasi waktu. Misal, barang ini aku jual padamu satu bulan saja
                        4.  Macam-Macam Jual Beli
                           Jual beli ada tiga macam yaitu:
                     a.  Menjual barang yang bisa dilihat
                           Hukumnya boleh/sah jika barang yang dijual suci, bermanfaat dan memenuhi
                     rukun jual beli.
                     b.  Menjual barang yang disifati (memesan barang)
                           Hukumnya boleh/sah jika barang yang dijual  sesuai  dengan sifatnya (sesuai
                     promo)
                     c.  Menjual barang yang tidak kelihatan
                           Hukumnya  tidak  boleh/tidak  sah.  Boleh/sah  menjual  sesuatu  yang  suci  dan
                     bermanfaat dan tidak diperbolehkan/tidak sah menjual sesuatu yang najis dan tidak
                     bermanfaatin.


                     B. Jual Beli Salam
                        1. Pengertian dan Dasar Hukum Salam
                           Secara bahasa, salam (ملس) adalah al-i'tha' ( ءاطعلا) dan at-taslif (فيلستلا) yang


                     berarti pemberian. Sedangkan secara istilah, salam didefinisikan sebagai ( فوصوم عيب

                       لاجاع ىطعي لدبب ةمذلا قي) artinya jual-beli barang yang disebutkan sifatnya dalam
                     tanggungan dengan imbalan (pembayaran) yang dilakukan saat itu juga.
                           Secara sederhana, salam dapat dikatakan sebagai jual beli dengan hutang. Jual
                     beli  ini  biasanya  menghutangkan  barang  dengan  pembayaran  uang  tunai.  Hal  ini
                     berkebalikan  dengan  kredit,  di  mana,  kredit  barang  diserahkan  terlebih  dahulu,
                     sedangkan uang pembayaran menjadi hutang.
                           Dasar diperbolehkannya salam tertera di dalam al-Qur'an, hadis dan ijma ulama.
                                                                                               ج
                                                                              ج
                                                                          ج
                                                                                       ج
                                                                                                َّ
                                                        هوب تْ كاف ىمسُْ م  ٍ لجَأ  َ لَإ ٍ نيدب متنيادت اذإ اونمآ نيذلا اهُْ  يَأ يا
                                                       ُ ُُ َ ًّ
                                                                                                   َ َ
                                                                                   ََ َ ْ َُ َ
                                                                             ْ َ ُ َ
                                                                      َ
                                                                 َ
                           Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai
                           untuk  waktu  yang  ditentukan,  hendaklah  kamu  menuliskannya  (QS  al-
                           Baqarah/2: 282).
                                                                                                      5
   10   11   12   13   14   15   16   17   18   19   20