Page 153 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 153
dengan kami, yaitu Puncak. Kehadiran mereka memberiku sedikit
rasa aman.
Selama satu jam di dalam hutan itu, kami hanya diam. Aku
sibuk memeluk Farras, lebih karena kedinginan dan sedikit ngeri,
sementara Farras fokus pada jalanan yang berkelok dan menanjak.
Pikiranku mulai kosong, hanya ada rasa lelah dan kantuk.
Sekitar pukul 22.40-an, Farras tiba-tiba berseru.
“Kita sudah sampai di Puncak!”
Dia menepikan motornya di sebuah area parkir terbuka, diapit
warung-warung sederhana. Aku turun dengan kaki yang terasa
kaku dan tubuh yang sangat menggigil. Mataku menyapu
pemandangan di depan. Ya, di sana ada pemandangan lampu-
lampu kota yang menyebar di kejauhan, City light !
Namun, melihat ke sekelilingku... Whaat?
Pikiranku langsung membandingkan city light yang kulihat
sekarang dengan bayanganku yang seharusnya. Empat jam! Kami
menghabiskan empat jam perjalanan (termasuk drama outfit,
bensin, dan ATM) hanya untuk melihat city light yang sama sekali
tidak worth it , ditambah dengan pemandangan puluhan warung
tenda di sekitarku!
Farras mengajakku untuk datang ke salah satu warung
yang ada. Dia menyuruhku untuk memesan sesuatu, aku memesan
153

