Page 152 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 152
namun yang terbesit dalam pikiranku “kenapa harus pakai ATM-
ku wooii!” Jeritanku tertahan di tenggorokan.
Pukul 21.30 WIB. Kami masih berada di Jakarta. Jalanan
ramai lancar, dan sesekali macet total, wajar karena ini adalah
malam minggu. Kami menyusuri jalanan yang mulai berganti dari
hiruk pikuk kota menjadi deretan rumah dan pepohonan yang
semakin rapat. Aku mencoba menikmati angin malam, tetapi
pikiranku masih dipenuhi rentetan kekesalan tadi.
Setelah melewati pinggiran kota, perjalanan kami
memasuki babak baru yang lebih menantang. Farras memelankan
motornya, dan aku merasakan dinginnya udara mulai menusuk
jaket tebalku.
“Siap-siap, sebentar lagi kita masuk hutan. Butuh waktu satu jam
untuk melewati hutan ini”, kata Farras setengah berteriak agar
suaranya terdengar melawan deru mesin motor.
Mataku menyipit ke depan. Benar saja, lampu motor kami hanya
mampu menembus kegelapan pekat yang mengelilingi. Kanan dan
kiri hanya ada siluet pepohonan tinggi. Hutan yang sesungguhnya!
Ketakutan sempat menyelimutiku, tetapi untungnya kami tidak
sendiri. Banyak pengendara motor lain yang melaju dengan
kecepatan sedang, yang mungkin memiliki tujuan yang sama
152

