Page 159 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 159
menentang ucapan "lelah" yang kukatakan padanya beberapa jam
lalu.
Umpanku langsung termakan. Tidak butuh waktu lama bagi
Farras untuk melihat unggahan tersebut, dan sedetik kemudian,
sebuah panggilan masuk darinya tertera di layar. Jiwa usilku
bergejolak, menolak untuk meredam permainan ini. Alih-alih
mengangkat teleponnya, aku membiarkannya berdering dan
memilih membalasnya lewat pesan teks. Dengan penuh percaya
diri, aku bersandiwara bahwa langkah kakiku sedang berpijak di
hiruk-pikuk Kota Kasablanka, Jakarta Selatan.
"Katanya capek, kok malah ke Kokas?" tanyanya, langsung
menyelidik dengan nada tulisan yang kurasakan penuh dengan
kerutan di dahi.
Rentetan pesan berikutnya datang bak peluru yang
ditembakkan bertubi-tubi. Farras menjelma menjadi seorang
interogator ulung yang menuntut kejelasan atas ketidaksinkronan
ucapanku.
"Sama siapa? Kenapa call-ku nggak diangkat?"
Aku tertawa kecil di balik selimut, lalu mengetikkan jawaban asal
yang melintas pertama kali di kepala,
"Sama Dian, ini juga udah mau jalan pulang kok".
159

