Page 163 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 163
memercikkan rasa percaya diri bahwa Farras akan menyukainya,
apalagi ini juga menu favoritku. Namun, senyumku mendadak
surut saat seujung sendok masakan itu mendarat di lidah. Dahiku
berkerut. Kenapa rasa baksonya asam?
Seketika rasa kesal bercampur kecewa bergolak di dada.
Bagaimana mungkin bakso yang kubeli dengan harga paling mahal
bisa seburuk ini kualitasnya? Di tengah kepanikan dan rasa
bingung apakah bahan ini sudah basi, aku langsung bertanya pada
Popay, yang untungnya lebih paham urusan dapur. Penjelasannya
sedikit meredakan kepanikanku meski tidak memperbaiki
keadaan: rasa asam itu bukan karena basi, melainkan karena
komposisi adonan tepungnya yang kurang pas. Aku mendesah
pasrah, bingung setengah mati. Padahal, aku sudah telanjur
berjanji akan membawakannya bekal hari ini.
Tak ingin larut dalam kekecewaan, aku melanjutkan langkah
berikutnya. Jemari tangan ini dengan cekatan menggoreng nugget
crumble hingga warnanya berubah kuning keemasan. Aku juga
membuat telur dadar kemudian aku potong seperti mie. Saat
proses plating , aku mencoba menata semuanya seindah mungkin
di dalam kotak makan. Sebagai pelipur lara, aku juga menyiapkan
beberapa lembar roti tawar bertabur meises untuk menu
163

