Page 16 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 16
“Tentu, tapi aku masukkan mobil ke garasi dulu ya,” jawabnya.
Dalam hati, aku mendengus kecil, “Peduli apa aku soal mobilnya?
Aku cuma minta dua menit, kenapa jadi serumit ini?”
Penantian itu membengkak hingga dua puluh menit. Namun, tepat
saat kekesalanku mulai memuncak, layar ponselku berpendar.
Nama "Ammar" muncul. Aku menarik napas dalam, bersiap untuk
percakapan ringan selama sepuluh menit sebagai pengantar tidur.
Kami memulai di zona aman. Ia bercerita tentang
pekerjaannya sebagai HRD Payroll di kawasan Kuningan, lalu
dengan penuh perhatian menawarkan bantuan relasi jika aku
merasa tak nyaman di kantorku saat ini. Aku tersenyum, menolak
dengan halus karena lingkunganku sudah cukup sehat.
Percakapan kemudian bergeser pada latar belakang
pendidikanku. Aku menyebutkan gelar magisterku di bidang
Biomedis dan Pendidikan Sains, fokus pada biomolekuler—dunia
DNA dan virus yang rumit.
Seketika, atmosfer berubah. Alur pembicaraan berbelok
tajam tanpa aba-aba. Dari obrolan hobi yang ringan, ia melompat
ke sebuah pertanyaan yang membuatku tertegun:
“Menurutmu, bagaimana virus bisa menular ke manusia?”
Jantungku mencelos. Aku tidak siap. Bukan karena aku buta
akan materinya, tapi karena topik itu terasa terlalu berat, terlalu
16

