Page 21 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 21

yang  rapuh  namun  menenangkan,  lalu  mengecup  keningku

          lambat-lambat.  Pada  detik  itulah,  ada  sesuatu  yang  mendadak

          terasa  sesak  dan  menghimpit  dadaku.  Sudut  mataku  memanas.
          Rasanya ingin sekali aku egois, mengemas koper, dan ikut melesat

          pulang  bersama  mereka  menuju  rumah  yang  sesungguhnya.
          Namun, realitas berbisik kejam, aku harus tetap tinggal di Jakarta,

          bertarung  dengan  takdir  dan  tanggung  jawab  di  kota  ini.  Aku

          hanya bisa melambaikan tangan dengan senyum yang dipaksakan,
          melepas kepergian mobil mereka hingga hilang di telan ramainya

          jalanan.

               Malamnya,  sunyi  kembali  merayap  dan  menguasai  kamar
          kost-ku. Untuk mengusir sepi, aku meraih ponsel yang tergeletak

          di atas kasur. Sebuah notifikasi pesan masuk dari Farras memecah

          keheningan.
          “Hari ini agendanya ke mana aja?”  tanyanya di seberang sana.

          Aku mengetik balasan dengan sisa-sisa kehangatan hari ini, “Baru

          pulang dari TMII, habis jalan-jalan sama keluarga yang datang dari
          Cirebon.”

               Tidak  lama,  balasannya  masuk,  diikuti  dengan  tawa  kecil

          lewat  deretan  hurufnya  seolah  sedang  mengejekku.  Dia
          menertawakan  pilihanku,  seakan  heran  mengapa  di  zaman

          sekarang aku masih memilih TMII sebagai destinasi akhir pekan.


                                                                          21
   16   17   18   19   20   21   22   23   24   25   26