Page 25 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 25
Kami sampai. Aku duduk lebih dulu sementara ia
memesankan makanan. Saat ia melepas jaket kotak-kotak tipisnya,
ada aura intelek yang mendadak terpancar. Farras berdiri di sana
dengan kemeja hitam, celana abu-abu, dan sepatu pantofel.
Sebuah personifikasi pria korporat yang matang dan berwibawa.
Pemandangan itu sangat kontras dengan diriku malam itu.
Aku hanya mengenakan setelan baju tidur putih yang dibalut
cardigan rajut pink fanta beraksen stroberi. Benar-benar dua
dunia yang berbeda.
“Kamu suka pink ya? Outfitmu benar-benar menunjukkan kamu
mau tidur ya” , ucapnya dengan serius.
Sambil menunggu pesanan, obrolan kami dimulai. Sesuai
dugaanku, ia sangat kaku. Pertanyaannya lebih terasa seperti
interview kerja daripada kencan. Dia bertanya tentang karierku
dan rencana lima tahun ke depanku. Sesekali ia berbicara
memakai Bahasa Inggris dan dia bilang “ngerti kan?” dan aku yang
sudah terlanjur malas dengan suasana monoton ini memilih
berpura-pura tidak mengerti.
Bahkan ketika bubur itu datang, ekspektasiku runtuh. Ia
menjanjikannya sebagai "bubur terbaik," namun di lidahku,
rasanya jauh dari kata enak. Aku memaksakan setiap suapan
25

