Page 30 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 30
"Iya, parah banget memang," sahut Popay jenaka. Ia kemudian
mengomentari kulit Farras yang menurutnya sangat putih. Aku
menyetujui, meski dengan ego kecil aku menimpali bahwa kulitku
masih jauh lebih cerah darinya.
Sekitar pukul 09.30 WIB, obrolan kami berlanjut di ruang
digital. Aku mengirimkan foto kopi pemberiannya dengan pesan
singkat, "Makasih ya."
"Apa itu?" balasnya, seolah lupa.
"Kopi yang tadi kamu kasih," seruku.
"Oalah, iya ya, haha."
Di sela kesibukan pekerjaan, Farras kembali dengan sifat
impulsifnya. Ia berniat menjemputku pulang kerja. Kali ini,
benteng pertahananku naik. Aku menolak keras. Ada rasa risih
yang mulai merayap; aku bukan tipe perempuan yang senang
bertemu setiap saat, apalagi kami baru saja bertatap muka pagi
tadi.
Malam pun tiba, namun kegigihannya belum surut. Ia
mengabari akan mampir ke tempatku. Melalui panggilan telepon,
aku memohon agar ia tidak datang, tapi Farras tetaplah Farras.
Dalam keputusasaan karena permintaanku diabaikan, aku pura-
pura terisak, memalsukan tangis di balik telepon. Suaranya di
seberang sana mendadak panik.
30

