Page 222 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 222
memaksanya melanjutkan perjalanan meski hujan masih enggan
reda.
Roda motor kembali berputar, namun hujan justru kian
menderu. Kami terpaksa berteduh di sebuah terowongan di
pinggir jalan raya. Kehadiran mobil polisi di sana memicu trauma
lamaku akan tilang, membuat suasana hatiku kian keruh. "Kamu
duduk saja di situ, pesan kopi. Nanti aku yang bayar," ucapnya
datar. "Kalau cuma untuk secangkir kopi, aku bisa membayarnya
sendiri," sahutku dengan nada yang mulai meninggi. Kalimat itu
meluncur begitu saja, seolah menegaskan bahwa harga diriku tak
bisa dibeli dengan tawaran sekadarnya.
Perjalanan berlanjut di bawah sisa-sisa gerimis. Di atas
motor, percakapan kami mulai terasa dingin.
"Kalau tahu hujan begini, aku bawa mobil," cetusnya.
"Kalau tahu hujan, kita tidak akan keluar sejak awal," balasku
ketus.
Ada sesak yang menghimpit dada. Aku tahu dia punya mobil, tapi
dia selalu memilih motor bahkan saat cuaca tak bersahabat. Aku
bukan wanita yang memuja materi, namun bukankah kasih sayang
juga berarti menjaga kenyamanan pasangan? Aku sempat
bertanya pada diri sendiri: dari sekian banyak orang yang
menawarkan kenyamanan mobil dan kemewahan tempat,
222

