Page 224 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 224
biasa. Harapan tinggiku runtuh seketika. Jika tahu akan begini, aku
lebih baik menghabiskan malam di Monas bersama teman-teman.
Di parkiran, aku mencoba mencairkan suasana.
"Coba deh, sesekali panggil aku 'sayang'," godaku.
"Iya, Gina," jawabnya pendek.
"Panggil 'sayang' dong".
"Iya, Gina ." Aku tahu dia sengaja.
Tapi di titik itu, energiku sudah habis. Aku merasa menjadi satu-
satunya yang berjuang di hubungan ini. Aku yang selalu
memanggilnya dengan sebutan manis, aku yang bangga
menunjukkannya pada dunia, sementara dia? Dia seolah tak
peduli.
Dalam perjalanan pulang, kami berhenti di kedai sate
taichan seberang Senayan City. Dia memesan porsi yang luar biasa
banyak, sementara aku hanya sanggup menelan enam tusuk.
Karena muak, aku memilih tenggelam dalam ponselku sendiri.
"Kamu balas pesan siapa sih? Sibuk banget. Ngga menghargai
banget," sindirnya.
"Bukannya kamu juga begitu? Di kedai kopi main game, bahkan di
lampu merah pun tetap main game. Gimana rasanya digituin?",
jawabku dengan tatapan tajam.
224

