Page 228 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 228

Aku menyipitkan mata, sengaja menggoda. "Emang biasanya

          nggak cakep?"

          Ia terkekeh pelan sembari memakaikan helm untukku.
          "Cakep, tapi ini lebih cakep."

          Kami  pun  membelah  malam.  Namun,  alih-alih  disuguhi
          pemandangan gedung pencakar langit dengan kelap-kelip lampu

          metropolitan yang romantis, Farras justru membawaku masuk ke

          dalam labirin gang-gang sempit Jakarta yang lembap dan padat. Ia
          seolah  sedang  menguji  ambang  batas  kesabaranku.  Berkali-kali

          aku  memprotes,  namun  ia  justru  sengaja  melakukannya,

          memancing kekesalanku hanya untuk mendengar tawa jahilnya di
          balik deru mesin motor.

               Di tengah perjalanan yang tak biasa itu, percakapan  kami

          beralih ke topik yang cukup berat untuk sebuah kencan malam
          Minggu:  investasi.  Dengan  nada  bicara  yang  tertata,  ia

          memaparkan  filosofi  keuangannya.  Menurutnya,  manajemen

          finansial  idealnya  terbagi  tiga:  living  cost,  entertainment dan
                                                                       ,
          investasi.

          "Rata-rata orang menghabiskan uangnya di poin kedua,"    cetusnya.

          Ia mengaku heran melihat teman-temannya yang belum memiliki
          rumah  atau  kendaraan  pribadi  meski  sudah  bekerja  lama.  Aku

          mendengarkan,  lalu  mencoba  memberikan  perspektif  dari  sisi


                                                                        228
   223   224   225   226   227   228   229   230   231   232   233