Page 233 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 233
arah Bekasi menuju tempatku. Ia bersikeras mengajakku makan
nasi uduk malam itu.
"Beli saja nasi uduk dekat rumahmu, ngapain jauh-jauh ke sini,"
ujarku melalui pesan singkat yang masih diselimuti sisa kekesalan
sebelum ia benar-benar sampai.
Tak lama kemudian, ponselku bergetar hebat. Sebuah tanda
bahwa ia telah tiba di depan gerbang. Dengan langkah yang
sengaja kuperlambat dan raut wajah yang malas, aku turun
menemuinya. Malam itu, kami membelah jalanan tanpa tujuan
yang megah, hanya berkeliling sampai akhirnya mesin motor
berhenti di depan sebuah gerobak nasi uduk sederhana di pinggir
jalan. Lagi-lagi, makan di pinggir jalan. Skenario yang selalu
berulang setiap kali tiap kami bertemu. Dengan antusias yang
tidak berubah, ia memesan nasi uduk lengkap dengan semur
jengkol, makanan yang selalu ia agung-agungkan sebagai
favoritnya. Ia bahkan mencoba merayu lidahku untuk
mencicipinya, namun aku tetap pada pendirianku. Aku hanya
memesan nasi uduk dengan lauk bihun dan telur. Sederhana,
sesederhana pertemuan kami malam ini.
Begitu butiran nasi terakhir di piring kami habis, ia langsung
mengajakku pulang. Ya, itulah akhir dari pertemuan singkat di
penghujung hari Minggu ini. Rasanya ada sesak yang tertinggal.
233

