Page 237 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 237
hatiku. Aku kecewa, bagaimana mungkin masalah sekecil itu bisa
menyulut emosinya? Sambil membisu, aku berusaha memperbaiki
gantungan itu dan memasangkannya kembali ke tempat semula.
Suasana hatiku sudah jelek ditambah hujan tak kunjung reda,
sementara waktu Maghrib terus mengejar. Penyesalan mulai
menghampiri, andai saja aku memilih berbuka di kost bersama
Popay, mungkin aku tidak akan terjebak dalam ketidakpastian
yang basah ini.
"Beb, kalau buka di mall aja gimana?" tanyanya, melirik ke arah
mall yang berdiri tegak tepat di seberang tempat kami berteduh.
"Liat nanti deh, semoga aja bentar lagi reda," jawabku dengan nada
yang masih sedikit getir.
Di tengah gemuruh hujan, ketegangan perlahan mencair.
Kami mulai bercanda, mencoba menertawakan keadaan. Aku pun
mengeluarkan jam tangan baru yang melingkar di pergelanganku
untuk memancing perhatiannya.
"Beb, liat deh, aku beli jam baru. Cakep nggak?" pamerku padanya.
"Bagus," jawabnya singkat, namun cukup untuk mengembalikan
suasana hatiku.
Begitu hujan sedikit mereda, kami memutuskan untuk menerabas
sisa-sisa air yang turun dari langit. Farras mengarahkan motornya
menuju Cempaka Putih. Wilayah itu adalah surga jajanan, dan
237

