Page 238 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 238
mataku lapar melihat deretan kuliner yang menggoda di
sepanjang jalan.
"Mau All You Can Eat, Beb?" tawarnya.
"Nggak ah, sayang. Makanku dikit beb, apalagi lagi puasa gini,"
tolakku halus.
"Kamu mau makanan Sunda?" tanyanya lagi. Aku langsung
mengangguk mantap. Pikiran tentang kesegaran sayur asem tiba-
tiba menjadi sangat mendesak.
Kami akhirnya berlabuh di sebuah restoran Sunda di
kawasan Cempaka Putih. Aku izin pergi ke toilet sedangkan dia
langsung menuju lantai 2. Saat aku kembali dari toilet, ternyata dia
sudah memesankan menu untuk kami. Lagi-lagi, ia mengambil
keputusan tanpa bertanya padaku.
"Tanya dulu, lah," protesku kecil.
"Ini udah paket, Beb, pasti enak kok," katanya dengan nada
meyakinkan, membuatku mengalah untuk sekian kalinya.
Farras kemudian mengajakku pindah meja untuk mencari colokan
listrik demi mengisi daya laptopnya. Meski hari ini adalah hari
liburnya, ia tetap membawa pekerjaan. Ketekunannya sebagai
pekerja keras selalu berhasil membuatku kagum. Tak lama,
hidangan datang dengan plating empat tingkat yang estetik. Sayur
238

