Page 230 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 230

dengan dua  cup minuman dan kabar bahwa makanan kami sudah

          siap.

               Di  sana,  di  bawah  remang  lampu  taman,  aku  duduk
          menopang  piring  kwetiau  dengan  sedikit  canggung.  Namun,  di

          luar dugaan, suapan pertama terasa begitu nikmat. Sambil makan,
          ia  bercerita  bahwa  masjid  di  dekat  taman  ini  adalah  tempat  ia

          biasa menunaikan salat Jumat karena lokasinya yang berdekatan

          dengan kantornya. Selesai makan, ia mengajakku bersiap pulang.
          Aku tertegun. Hanya ini?

          "Ini kita langsung pulang?" tanyaku, tak mampu menutupi nada

          kecewa.
          "Nggak, kita muter-muter dulu ya, liat city view Jakarta," jawabnya

          menenangkan.

          Hatiku  sempat  menghangat,  namun  kenyataannya,  kami  hanya
          berkeliling sebentar yang jalurnya tetap saja mengarah ke jalan

          pulang.  Selama  menjalin  kasih  dengannya,  aku  sering  merasa

          seperti sedang berkencan dengan "pria jompo", bertemu hanya
          untuk  mengisi  perut  lalu  kembali  ke  peraduan.  Energi  kami

          seringkali tidak selaras, aku yang masih haus akan petualangan

          dan keramaian, bertemu dengan dia yang begitu minimalis dalam
          berekspresi. Terkadang, keraguan menyelinap:  apakah aku akan

          benar-benar bahagia bersamanya nanti?     Hal-hal sepele yang aku


                                                                        230
   225   226   227   228   229   230   231   232   233   234   235