Page 219 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 219
Seketika bulu kudukku berdiri. Sudahlah tengah malam, aku
pun sedang berada dalam siklus haid. Pikiranku langsung
dipenuhi ketakutan akan energi-energi negatif yang mungkin
mengintai. Aku memprotes tindakannya dengan panik, namun
Farras justru tertawa puas. Aku memang bukan gadis penakut
yang mudah menjerit, tetapi lorong gang di antara nisan-nisan itu
teramat gelap dan mencekam. Akhirnya, aku menyerah dan
menyembunyikan wajahku sepenuhnya di balik punggung
kokohnya.
Begitu berhasil keluar dari area pemakaman, aku langsung
menepuk bahunya kesal. Dan dia hanya tertawa tanpa dosa.
Kekesalanku mencapai puncaknya saat di ujung jalan utama,
sebuah portal besi terkunci rapat menghalang kami. Kami harus
berputar arah, yang artinya kami harus melewati labirin kuburan
gelap itu sekali lagi! Aku menarik napas dalam-dalam, merutuki
kejahilannya meski dalam hati aku tahu, momen-momen konyol
seperti inilah yang selalu melekat di kepala.
Malam itu ditutup dengan sebuah potret yang sempurna
dalam ingatan. Menikmati temaram megah lampu-lampu gedung
pencakar langit Jakarta di atas motor, bersama dengan seseorang
yang paling kusayangi di dunia ini. Aku sangat berharap waktu
bersedia berjalan melambat. Walaupun Farras selalu punya seribu
219

