Page 217 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 217
malam ini akan menjadi agenda makan malam romantis, bukan
petualangan di dalam bioskop.
Lampu teater perlahan padam, digantikan oleh simfoni
visual Avatar yang luar biasa memanjakan mata. Keindahannya
begitu magis. Aku yang awalnya acuh tak acuh, mendadak terpaku
dan tenggelam dalam alur cerita yang disajikan. Namun, mataku
yang ringkih tak bisa berbohong pada rasa lelah setelah seharian
kerja. Baru sekitar tiga puluh menit berlalu, aku menguap. Tanpa
ragu, aku menyandarkan kepalaku di bahu Farras. Rasanya sangat
nyaman, jenis kenyamanan yang membuatmu berdoa agar waktu
sudi berhenti berputar saat itu juga.
Kami kembali larut dalam keseruan cerita. Di tengah film,
ketika aku mencoba memperbaiki posisi duduk menjadi tegap,
Farras menoleh.
"Sini, senderan lagi," bisiknya lembut.
Hati kecilku berdesir penuh rasa hormat. Di dalam bioskop yang
temaram, dalam jarak wajah kami yang begitu dekat, dia sama
sekali tidak berniat mengambil kesempatan atau menyentuhku
dengan kurang ajar. Laki-laki metropolitan seperti dia adalah
spesies langka di tengah hiruk-pikuk kota ini. Dia adalah rumah,
tempat teraman, sekaligus penjaga yang tulus. Sebagai balasan
217

