Page 212 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 212
,
sebagai sosok yang egois dan moody padahal kenyataannya
dialah yang menjadi pusat semesta dalam hubungan ini, sosok
yang hanya peduli pada validasi perasaannya sendiri.
Selama merajut hari bersamanya, aku bertransformasi
menjadi seorang pendengar pasif bagi setiap keluh kesah dan
sekelumit bebannya. Dia hampir tidak pernah memiliki ruang di
hatinya untuk sekadar bertanya bagaimana hariku berjalan.
Bahkan, untuk urusan sekecil menu makanan pun, dia selalu
mendikte dan memesankan apa yang menjadi seleranya, tanpa
pernah mengindahkan apa yang kuinginkan.
Berkali-kali nuraniku menyuarakan kata pisah, namun dia
selalu kokoh menolak untuk melepaskan. Seiring berjalannya
waktu, keraguan dalam diriku tumbuh subur, menjelma menjadi
tembok besar yang menghalangi pandanganku ke masa depan.
Aku kehilangan keyakinan bahwa aku bisa mengecap bahagia jika
terus bertahan di sisinya. Ingatanku kerap kali melayang pada
masa lalu, hampir semua mantan kekasihku memperlakukanku
dengan begitu agung, selayaknya seorang putri yang berharga.
Aku terbiasa dihujani afeksi dan dihadiahi bunga, sementara
bersamanya, aku seperti terus-menerus disodori pisau yang siap
menggores luka baru.
212

