Page 210 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 210
saja angkuh membasahi bumi. Aku telah menghabiskan waktu
berjam-jam dalam ketidakpastian, sementara dia tetap bersikeras
menyuruhku menunggu. Di tengah kepungan sepi itu, sebuah
tanya egois namun logis melintas di benakku: dia memiliki mobil,
bukan? Jika dia memang sungguh-sungguh berniat menemui
wanitanya, mengapa dia tidak menggunakan kendaraan roda
empatnya untuk menjemputku, menembus hujan yang dia
keluhkan? Kesabaranku mulai terkikis habis.
Sekitar pukul setengah delapan malam, kepastian yang
menyakitkan itu akhirnya datang. Farras mengabarkan bahwa
hujan masih mengguyur dengan deras, diikuti untaian kata maaf
karena terpaksa membatalkan janji kami. Sebagai penawar, dia
berjanji akan menebusnya dengan mengajakku keluar esok hari.
Aku tidak lagi menghiraukannya, rasa antusias itu sudah terlanjur
mati, berganti ketukan kekesalan yang kian nyata.
Keesokan paginya, layar ponselku dipenuhi oleh rentetan
pesan beruntun darinya. Ketika aku memilih untuk tetap membisu
dan mengabaikan distorsi tersebut, dia justru berbalik marah.
Sesuatu di dalam dadaku bergemuruh. Rasa kesal yang kupendam
sejak perjalanan di Cirebon, sikap apatisnya yang sama sekali
tidak peduli saat aku tersesat tempo hari, hingga akumulasi
kekecewaan malam lalu, akhirnya mencapai titik didih.
210

