Page 206 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 206

Memang,  hubungan  Farras  dengan  adik  maupun  adik  iparnya

          tidak pernah benar-benar harmonis.

               Setelah  mampir  ke  Karawang  sebentar,  kami  melanjutkan
          perjalanan. Hanya sekitar satu jam lagi kami akan sampai. Saat

          Jakarta  mulai  terlihat  di  cakrawala.  Suasana  yang  tadinya  beku
          perlahan  mencair.  Amarah  yang  kupendam  selama  di  Cirebon

          seolah  menguap  begitu  saja,  digantikan  oleh  sisi  lembut  yang

          jarang ia tunjukkan. Sikap tengilnya hilang, digantikan oleh jemari
          yang menggenggam tanganku erat. Aku menyandarkan kepalaku

          di bahunya, menikmati detak waktu yang terasa melambat.

          “Kenapa tidak dari awal kita seperti ini?”,   tanyaku dalam hati.
          Kami bernyanyi bersama di sepanjang jalan tol, melantunkan lagu

          ciptaannya yang selalu menjadi favoritku. Hingga akhirnya, mobil

          berhenti tepat di depan kostku.
          "Satu kresek oleh-oleh ini buatku, ya?"  pintanya tanpa dosa. Aku

          sempat  tertegun.  Padahal  awalnya  aku  hanya  menyiapkan  itu

          untuk teman kost dan dosen. Namun, melihat wajahnya, akhirnya
          sebagian besar buah tangan itu berpindah tangan kepadanya.

               Kekesalanku  kembali  mencuat  sesaat  ketika  ia  hanya

          meletakkan  barang-barangku  di  depan  gerbang  kost  tanpa  ada
          niat membawanya masuk. Shibbal!     Dia benar-benar tidak peka.





                                                                        206
   201   202   203   204   205   206   207   208   209   210   211