Page 204 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 204
"Ngga usah, nanti aku aja yang bawain kopernya," sahutnya datar.
Aku hanya bisa menghela napas panjang. Malam sebelumnya,
bujukanku dengan alasan yang sama mentah di tangannya.
Saat kami hendak bergegas, langkah kami tertahan oleh
Bapak. Beliau yang saat itu sedang menjamu tamu menyempatkan
diri untuk bicara dengan kami. Kalimatnya pun setali tiga uang
dengan wejangan Uwa tentang keseriusan, tentang masa depan,
tentang pernikahan. Kami hanya mengangguk sopan sebelum
benar-benar berpamitan.
Ketegangan kecil kembali terjadi saat masalah mobil
diungkit lagi oleh Bapak karena melihat tumpukan barangku.
Namun, karena rasa kesal yang sudah mengakar pada keras
kepalanya Farras, aku langsung memotong, "ngga usah Pak, kita ke
sana aja biar ngga ribet." Kami berpamitan dan pulang ke Jakarta.
Roda mobil mulai berputar meninggalkan Cirebon. Namun,
baru beberapa kilometer melaju, Farras sudah mulai mengomel
panjang lebar tentang betapa terburunya semua orang mendesak
kami.
"Yaudah sihh ngga usah dipikirin, kan aku udah bilang berkali-kali
kalau aku aja masih ragu sam kamu. Slow aja ," balasku dingin.
"Kok gitu?" tanyanya terkejut. Aku tak menyahut.
204

