Page 199 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 199
"Padahal tadi mau keluar," keluh Farras.
"Kalau memang niat keluar, seharusnya dari siang tadi," balasku
tajam.
Di ruang tamu, kami duduk bersama Bapak dan mamah. Di tengah
kebersamaan itu, ponselku bergetar. Sebuah notifikasi DM masuk
dari Farras: sebuah emotikon jari tengah. Darahku mendidih. Dia
mengancam akan mengadu kepada orang tuaku tentang
perilakuku di Jakarta sebagai bentuk balas dendam karena merasa
aku tidak pernah menurut padanya. Bahkan saat Zea,
keponakanku, mencoba mendekatinya, dia bersikap dingin dan
acuh. Jujur, hatiku sakit melihatnya. Saat itu juga, aku merasa ingin
segera kembali ke Jakarta dan menyudahi hubungan yang terasa
semakin menyesakkan ini.
Malam kian larut namun hujan tak kunjung reda.
"Kalau mau keluar, pakai mobil saja," tawar Bapak saat kami
sedang berbincang di ruang tamu.
Dia terus mengeluh karena hujan tak kunjung reda. Hingga pukul
delapan malam, dia tiba-tiba punya ide "gila" untuk keluar.
Hei, ini di kampung, bukan Jakarta!" protesku.
Dia ragu apakah boleh memakai mobil Bapak dan aku bilang tentu
boleh karena sebelumnya bapak memang menawarkan jika ingin
pergi pakai mobil yang ada di rumah saja. Aku awalnya ragu untuk
199

