Page 195 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 195
kesalahan besar. Aku yang baru saja ingin mereguk sedikit
ketenangan libur setelah sekian lama bergelut dengan rutinitas,
justru harus berhadapan dengan kekacauan yang dia ciptakan.
"Ayo bangun," seruku, mencoba menahan nada kesal. Namun, dia
hanya bergumam pendek, memohon waktu sebentar lagi. Aku
menunggunya dengan sabar yang kian menipis, hingga akhirnya
dia kembali tenggelam dalam tidurnya. Dengan perasaan dongkol
yang tertahan di dada, aku memutuskan untuk pulang ke rumah
sendirian.
Satu jam berlalu. Aku kembali lagi ke rumah Uwa setelah
sebelumnya mencoba meneleponnya berkali-kali tanpa jawaban.
Saat aku membuka pintu kamarnya, kemarahanku memuncak. Dia
masih di sana, bergelung di balik selimut sambil mendekap
ponselnya. Bagaimana bisa dia bersikap seacuh ini di rumah orang
lain? Apa yang akan dipikirkan keluarga besarku nanti? Rasa malu
dan tidak enak hati menghimpitku. Aku takut lelaki yang kupilih
ini akan dicap sebagai pemalas oleh mereka.
"Aku demam" bisiknya lirih.
Aku terdiam sejenak, lalu menyentuh dahinya. Benar, panasnya
menyengat. Mungkin dia benar-benar kelelahan karena urusan
kantor yang menumpuk, ditambah lagi perjalanan jauh Jakarta-
Cirebon yang dia tempuh di balik kemudi.
195

