Page 203 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 203
para dosen di kampus nanti. Namun ternyata toko yang menjual
sirup tersebut masih tutup.
Sekembalinya dari pasar, aku kembali ke rumah Uwa dan aku
mendapati pemandangan yang sama, yaitu Farras masih bergelut
dengan mimpinya. Kali ini, ia terbangun bukan untuk bersiap,
melainkan untuk asyik dengan dunia game di ponselnya. Ia
tampak terusik, seolah keberadaanku yang memaksanya bangun
adalah sebuah gangguan besar.
"Ayo bangun! Kita pulang ke Jakarta sekarang, kan kamu sendiri
yang bilang ingin cepat pulang dan kita berangkat jam tujuh pagi?"
Gertakku, mencoba menahan sisa-sisa kesabaran yang kian
menipis.
Emosiku benar-benar berada di titik kulminasi. Melihatnya
bangun dengan malas dan memutuskan untuk tidak mandi benar-
benar membuatku mengelus dada. Astaga, pria ini.
Setelah berpamitan dengan Uwa, kami menyantap Nasi
Jamblang yang kubeli saat di pasar tadi sebagai menu sarapan. Di
sela-sela suapan, aku mencoba bernegosiasi.
"Beb, mobilnya bawa ke sini aja ya? Barangku banyak banget ",
ucapku.
203

