Page 205 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 205
Sepanjang perjalanan, ia terus mengoceh tentang kerumitan
masalah di kantornya. Aku memilih bungkam. Energiku telah
terkuras habis hanya untuk meredam amarah selama beberapa
hari terakhir. Liburan ini terasa kacau di mataku.
Sekitar pukul sebelas siang, kami menepi di rest area.
Mengingat ini hari Jumat, ia harus menunaikan shalat. Aku
memilih duduk di depan Alfamart, membiarkannya menunggu di
depan masjid meskipun waktu salat masih cukup lama. Aku sudah
terlalu malas untuk sekadar berbasa-basi. Dalam diam, aku
merencanakan "balas dendam" kecil saat sampai di Jakarta nanti.
Tak lama, ia menghampiri dan duduk di sampingku. Pukul
setengah dua belas, ia kembali ke masjid dan memintaku
menunggu di dalam area yang lebih nyaman. Sambil
menunggunya, aku memesan semangkuk bakso instan dan es teh
manis, penghibur sederhana untuk suasana hati yang keruh.
Perjalanan berlanjut tepat sebelum pukul satu siang. Ia
memberi tahu bahwa kami harus mampir ke Karawang untuk
mengantar stroller milik keponakannya. Namun, adiknya meminta
agar barang itu dititipkan saja via GoSend di dekat pintu tol. Lagi-
lagi, omelan keluar dari mulutnya. Ia mempertanyakan mengapa
adik iparnya tidak bisa menjemput sendiri barang tersebut.
205

