Page 209 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 209

Kami berencana untuk pergi sekitar pukul empat sore. Aku

          sama  sekali  tidak  tahu  ke  mana  roda  kendaraannya  akan

          membawa  kami  kali  ini,  dan  aku  pun  memilih  untuk  tidak
          menaruh  ekspektasi  apa  pun.  Mungkin  kami  hanya  akan

          mengarah ke Bekasi, atau sekadar berputar-putar tanpa tujuan di
          sekitar  Jakarta  Timur.  Namun,  semesta  seolah  membaca

          keenggananku. Langit tiba-tiba menggelap, memuntahkan hujan

          lebat  di  daerah  Koja,  tempat  tinggalnya.  Sebuah  pesan  singkat
          masuk, Farras mengabarkan bahwa hujan turun sangat deras di

          sana  dan  memintaku  untuk  bersabar  menunggu.  Mendapati

          situasi itu, aku membalasnya dengan dingin, kukatakan bahwa jika
          dia  ingin  membatalkan  rencana  hari  ini,  aku  sama  sekali  tidak

          keberatan.

               Satu  jam  berlalu  dalam  keheningan  yang  menyesakkan.
          Farras  kembali  memberi  kabar  bahwa  intensitas  hujan  tak

          kunjung mereda, lengkap dengan kiriman video singkat sebagai

          bukti visual. Perasaanku yang sudah diselimuti kekesalan sejak
          pagi  hari  memilih  untuk  mengabaikannya.  Angan-angan  untuk

          bertemu  dengannya  terasa  begitu  hambar,  namun  ironisnya,

          jemariku  tetap  bergerak  mempersiapkan  diri,  memoles  riasan,
          dan  bersiap  pergi.  Waktu  terus  merayap  hingga  jarum  jam

          menunjuk tepat di angka 18.00 WIB, dan hujan di luar sana masih


                                                                        209
   204   205   206   207   208   209   210   211   212   213   214