Page 211 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 211
Perasaanku meledak. Tanpa ragu, kublokir nomor WhatsApp
miliknya. Tak lama kemudian, saluran komunikasiku beralih pada
rentetan SMS penuh amarah yang dia kirimkan.
Darahku berdesir, dan untaian kalimat yang selama ini
tersumbat di tenggorokan akhirnya kutumpahkan tanpa sisa:
"Selama ini gua dibegoin, digoblokin, diem aja. Ngga pernah minta
anter, ngga pernah minta di-gofoodin. Gua setia, kamu mau ini itu
gua turutin. Coba deh, Ras, cari cewe kaya gua, ada ngga? Kalo kita
putus pun, gua cuma kehilangan notifikasi dari lo doang," ketikku,
meluapkan seluruh luka yang terlanjur menganga.
"Gin, nafas dulu. Maaf, nanti magrib aku kesitu sekalian ngasih
kotak bekal kamu," balasnya, mencoba meredam badai dengan
alasan klasik yang fungsional.
"Ngga usah dibalikin, buat lo aja," jawabku ketus menyudahi
percakapan.
Aku benar-benar tidak habis pikir. Mengapa setiap kali badai
pertengkaran hebat melanda hubungan kami, kotak bekal selalu
menjadi tameng utamanya? Apakah itu taktik manipulatif agar
kami memiliki alasan untuk kembali bertatap muka, atau sekadar
alibi klise? Entahlah, aku sudah tidak peduli lagi. Saat itu, aku
berada di titik paling jengah terhadap sikapnya yang selalu
bertindak semena-mena. Farras selalu dengan mudah melabeliku
211

